Laporan Genetika pembelahan mitosis

Laporan Genetika pembelahan mitosis

I. PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
                  Reproduksi sel pada organisme bersel satu merupakan cara perkembangbiakan, sedangkan pada organisme bersel banyak merupakan cara perbanyakan sel, pertumbuhan, dan pembentukan sel kelamin. Proses reproduksi seluler meliputi proses pembelahan inti untuk membentuk inti baru (mitosis), diikuti dengan pembagian sitoplasma (sitokinesis). Proses ini menghasilkan dua inti yang tersipasah dalam sel yang berbeda. Mitosis dan sitokinesis adalah komponen pembelahan sel yang secara keseluruhan disebut reproduksi sel.
                  Mitosis merupakan pembelahan duplikasi di mana sel mereproduksi dirinya sendiri dengan jumlah kromosom sel anak sama dengan jumlah kromosom sel induk. Proses pembelahan mitosis terjadi pada semua sel tubuh mahluk hidup, kecuali pada jaringan yang menghasilkan sel gamet (organ reproduksi). Tujuan pembelahan mitosis adalah mewariskan semua sifat induk kepada kedua sel anaknya dan berperan penting dalam proses-proses biologis, seperti pertumbuhan, penggantian sel-sel yang rusak, dan perbaikan jaringan.

1.2  Tujuan
a.       Mengamati tahapan yang ada dalam proses mitosis
b.      Mahasiswa mampu mengetahu proses perubahan kromosom.



II. TINJAUAN PUSTAKA

Pembelahan sel secara garis besar terdiri atas fase istirahat, fase pembelahan inti, dan pembelahan sitoplasma. Pada tahap ini sel dianggap istirahat dari proses pembelahan. Meskipun demikian, sebenarnya tahap interfase merupakan tahap yang aktif dan penting untuk mempersiapkan pembelahan. Persiapan itu adalah replikasi DNA (melipat gandakan DNA dari satu salinan menjadi dua salinan). Pada umumnya sebagian besar waktu hidup sel berada pada fase ini. Selanjutnya interfase dibagi lagi ke dalam fase gap-1 (G1), fase sintesis (=S), dan fase gap-2 (=G2).
Pada fase Gap-1, sel-sel belum mengadakan replikasi DNA, sehingga DNA masih berjumlah satu salinan (1c = 1 copy/salinan), dan diploid (2n). Pada fase sintesis DNA dalam inti mengalami replikasi atau (penggandaan jumlah salinan) sehingga pada fase sintesis akhirnya menghasilkan DNA 2 salinan dan diploid (2c, 2n). Pada fase G2 replikasi DNA telah selesai, dan sel bersiap-siap mengasakan pembelahan.
Tahap pembelahan inti sel atau karyokinesis, yaitu pembelahan inti sel. Tahap ini terdiri atas beberapa fase, yaitu : tahap profase, tahap metafase, tahap anafase dan tahap telofase.Sitokinesis, pembelahan inti diikuti dengan pembentukan sekat membran sel yang baru, yang memisahkan dua inti tersebut menjadi dua sel anakan. (Crowder, L. V. 1997)
Setiap sel dalam tubuh kita berasal dari sel yang sudah ada lebih dulu. Masalah pokok mengenai reproduksi sel dapat lebih jelas pada organisme seluler. Satu sel khamir yang ditanamkan pada medium yang sesuai akan menghasilkan beribu-ribu keturunan kecuali suatu kebetulan dari sel keturunan ini akan sama sifat, struktur dan fungsinya sebagai mana yang dimiliki sel pertama. (Pai Anna C, 1992)
Proses reprodusi seluler meliputi pembelahan inti untuk membentuk inti baru (mitosis), diikuti dengan pembagian sitoplasma (sitokenesis). Proses ini menghasilkan dua buah inti yang terpisah dalam sel yang berbeda. Mitosis dan sitokenesis merupakan komponen pembelahan sel yang secara keseluruhan disebut reproduksi sel. Proses mitosis diseluruh organisme pada dasarnya sama, baik hewan dan tanaman. Memang ada perbedaan mengenai proses pembelahan sel yang ada pada tanaman dan hewan. Perbedaan itu tidak mengenai mitosis dan hanya pembentukan spindel dan perilaku sitokenesis. (Suryo, 2001)
Dalam mitosis, semua sifat yang tergantung pada inti sel terekan secara lengkap pada sel yang baru. Mitosis terjadi secara aktif pada jaringan meristem yang sedang tumbuh dengan pesat, seperti pada ujung akar, pucuk dan tunas. Kecepatan pembelahan sel pada organ-organ berbeda. Sel-sel epitel, misalnya memiliki hidup relatif pendek. Karena penggantian dan pembuatan sel-sel baru terjadi secara terus-menerus dan cepat.( Syamsuri, 2004)



III. METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan
Hcl 1 N, aceto Orcein 2 %, bawang merah, mikroskop,cawan petri,pipet tetes

3.2 Metodologi Praktikum
a.          Potong ijung akar 0,5-1 cm
b.         Masukan dalam cawan petri yang diberi HCl IN, diamkan selama 10 menit
c.          Pindahkan kedalam cawan petri baru
d.         Tambahkan aceto orcein 2% biarkan selama 10-15 menit
e.          Letakan ujung akar pada gelas objek, teteskan 1-2 tetes aceto orcein 2% lalu diberi cover glass.
f.          Lewatka preparat diatas api bunsen
g.         Amati dengan mikroskop





IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Praktikum












4.2 Pembahasan
Dari hasil pengamatan yang kami peroleh, dimana sebagai bahan yang praktikan menggunakan Ujung akar bawang merah karena pada bagian ujung akar bawang merah yang  jaringan meristem sedang tumbuh pesat dengan penambahan pewarna aceto orcein sehingga proses pembelahan mitosis dapat diteliti di bawah mikroskop dengan jelas dan halus. Fase mitosis profase. Pada fase ini, sel induk yang akan membelah memperlihatkan gejala terbentuknya dua sentriol dari sentrosom, yang satu tetap di tempat, yang satu bergerak ke arah kutub yang berlawanan.
Tahap ketika sel membelah diri, tanda-tanda fase ini adalah sebagai berikut: Benang-benang kromatin di nukleus yang berbentuk seperti jala berubah semakin menebal dan memendek, menjadi kromosom. Pemendekan ini akibat dari berpilinnya kromosom. Tiap-tiap benang kromosom mengandakan diri sehingga membentuk struktur simetris yang disebut sebagai kromatid. Kromatid tersebut saling berhubungan melalui suatu bentuk yang bulat yang disebut sentromer.
V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
                        Dalam mitosis, semua sifat yang terkandung di dalam inti sel secara terekam lengkap pada sel baru. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa, proses pembelahan sel itu mengalami banyak fase yaitu dari fase benang-benang kromatik menebal, berjejer-jejer teratu di bidang pembelahan, kromosom tertarik dan menuju pembelahan, kemudian menjadi dua bagian.
5.2 Saran
Sebelum praktikum sebaiknya alat-alat praktikum sudah disiapkan.














DAFTAR PUSTAKA
Crowder, L. V. 1997. Genetika Tumbuhan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.


Pai, Anna C. 1992. Dasar-Dasar Genetika. Jakarta: Erlangga.


Suryati, Dotti. 2010. Penuntun Pratikum Genetika Dasar. Bengkulu: Lab. Agronomi Universitas Bengkulu.


Suryo. 2001. Genetika. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.


Syamsuri, Istamar, dkk. 2004. Biologi. Jakarta: Erlangga.


Welsh, James R.. 1991. Dasar-Dasar Genetika dan Pemuliaan Tanaman. Jakarta: Erlangga.



sumber
http://willyanvan.blogspot.com/2015/03/laporan-genetika-pembelahan-mitosis.html

LAPORAN PRAKTIKUM ANFISMAN TES BUTA WARNA

LAPORAN PRAKTIKUM ANFISMAN TES BUTA WARNA

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pernahkah anda melihat pelangi dengan warnanya yang begitu indah, pernahkah anda melihat lampu lalu lintas yang berada di tepi jalan? Ataukah jutaan warna yang sampai-sampai warna tersebut tidak terdefinisi jenis atau nama warnanya. Berbicara tentang hal tersebut tentunya kita patut bersyukur kepada Tuhan atas karuniannya yang sangat luar biasa dengan kemampuan kita yang mampu menikmati jutaan warna tersebut, mampu menikmati indahhnya pelangi, birunya langit hijaunya daun dan sebagainya.
Pernahkah anda berfikir bahwa tidak semua orang mampu membedakan warna. Atau kita katakana ada orang yang kemampuan matanya hanya dapat membedakan warna tertentu saja, misalnya orang yang tentunya sudah kita tahu bersama Mark Zuckerberg pendiri media social terbesar di dunia yaitu facebook. Dia hanya mampu membedakan warna biru, itulah alasan facebook memiliki tema warna biru. Buta warna tentunya merupakan kekurangan yang dalam ilmu genetika bersifat diturunkan.
Buta warna tentunya memberikan batasan kepada setiap orang untuk bebas melakukan sesuatu namun tentunya kita harus bersyukur terhadap karunia tuhan kepada kita. Orang yang buta warna akan memiliki beberapa hambatan di era modern ini. Misalnya untuk berkendara di jalan, tentunya sesorang harus tahu warna dari tiap rambu-rambu lalu lintas misalnya jika kita di Indonesia warna merah artinya dilarang jalan dan hijau artinya jalan. Atau untuk mendaftar di universitas pada jurusan tertentu biasanya akan melalui tes buta warna misalnya pada jurusan kedokteran. Atau yang ingin menjadi polisi atau tentara tentunya harus memiliki mata yang normal.
Seperti yang  kita jelaskan sebelumnya, buta warna biasanya bersifat diturunkan dari orang tua kepada keturunannya, sejauh ini belum ada cara untuk mengatasi buta warna tersebut. Buta warna disebabkan oleh tidak mampunya otak untuk menerjemahkan cahaya yang ditangkap oleh mata disebabkan karena adanya sel-sel kerucut pada mata yang tidak ada, sehingga warna yang hasil warna yang diterjemahkan tidak sesuai dengan semestinya. Untuk itu penting bag kita untuk mempelajari masalah buta warna sebagai tambahan wawasan dan untuk menjadi orang yang lebih banyak  bersyukur.
B.       Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui apakah probandus yang di uji mengalami buta warna atau tidak.
C.       Manfaat Praktikum
Manfaat dari praktikum ini agar praktikan mengetahui ini adalah mengetahui banyak hal tentang buta warna, mengetahui status kenormalan mata probandus serta untuk banyak bersyukur kepada Tuhan.


 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Salah satu gangguan yang terjadi pada mata adalah buta warna. Buta warna adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak dapat membedakan warna tertentu yang bisa dibedakan oleh orang dengan mata normal. Seseorang yang menderita buta warna dapat disebabkan oleh kelainan sejak lahir atau akibat penggunaan obat-obatan yang berlebihan. Buta warna umumnya diderita oleh laki-laki, sedangkan wanita hanyalah sebagai gen pembawa/resesif             (Agusta, 2012).
Buta warna adalah suatu istilah yang di pergunakan untuk menggambarkan adanya kelainan presepsi penglihatan warna. Kelaian ini di akibatkan oleh tidak adanya sekelompok sel kerucut penerima warna pada retina. Orang yang mengalami buta warna tidak atau kurang mampu membedakan dua warna yang berbeda. Buta warna ini dapat di temukan dengan uji ishihara. Pada uji ishihara di pergunakan serangkaian gambar berwarna. Gambar-gambar berwarna itu di rancang sedemikian rupa sehingga secara tepat dan cepat serta dapat memberikan penilaian terhadap kelainan persepsi warna (Taiyeb, 2016).
Salah satu gangguan yang terjadi pada mata adalah buta warna. Buta warna adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak dapat membedakan warna tertentu yang bisa dibedakan oleh orang dengan mata normal. Seseorang yang menderita buta warna dapat disebabkan oleh kelainan sejak lahir atau akibat penggunaan obatobatan yang berlebihan. Tes Ishihara adalah sebuah metode pengetesan buta warna yang dikembangkan oleh Dr. Shinobu Ishihara. Tes ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1917 di Jepang. Sejak saat itu, tes ini terus digunakan di seluruh dunia, sampai sekarang. Tes buta warna Ishihara terdiri dari lembaran yang didalamnya terdapat titik-titik dengan berbagai warna dan ukuran. Titik berwarna tersebut disusun sehingga membentuk lingkaran. Warna titik itu dibuat sedemikian rupa sehingga orang buta warna tidak akan melihat perbedaan warna seperti yang dilihat orang normal (Agusta, 2012).
Buta warna merupakan salah satu masalah pada mata seseorang yang tidak dapat mengenali warna yang dilihat. Dalam hal ini penentuan tingkat buta warna akan dibahas dalam tiga tingkatan buta warna yaitu monochromacy, dichromacy dan anomolus trichomacy. Adapun monochromacy adalah keadaan mata manusia hanya memiliki satu sel pigmen cones atau tidak berfungsinya semua sel pigmen, dichromacy keadaan mata manusia yang disebabkan karena salah satu dari tiga sel cone tidak ada atau tidak berfungsi sel cone dan anomalus tricrhomacy yang merupakan keadaan mata manusia yang disebabkan karena faktor keturunan. Namun hal ini sangat jarang terjadi, penderita anomalus tricrhomacy mempunyai semua sel cone yang lengkap namun terjadinya sensitivitas terhadap salah satu warna dari tiga sel reseptor (Taufik, 2013).
            Sekitar 5 % populasi manusia menderita buta warna. Buta warna merupakan gangguan herediter yang lazim di derita pria daripada wanita. Buta warna bervariasi antara buta satu warna tertentu (buta warna parsial) sampai buta warna total. Terjadinya buta warna ini di sebabkan oleh tidak adanya atau ada tetapi sedikit sel kerucut warna merah dan hijau. Bila tidak ada sel kerucut merah, maka warna merah akan nampak hijau. Bila sel kerucut hijau tidak ada, maka benda hiaju akan nampak merah. Bila ketiga macam sel kerucut (warna merah, hijau dan biru) tidak ada, maka semua benda akan nampak hitam dan seseorang akan menderita buta warna total (Basoeki, 2003).
            Salah satu metode yang menjadi standar dokter spesialis mata untuk melakukan tes buta warna adalah metode Ishihara. Metode Ishihara menggunakan buku yang berisikan lembaran pseudoisochromatic (plate) yang didalamnya terdapat titik-titik dengan berbagai warna dan ukuran. Titik-titik berwarna tersebut disusun sehingga membentuk lingkaran yang di dalamnya terdapat titik-titik dengan pola membentuk angka maupun garis berkelok. Plate pada buku akan mengalami perubahan warna menjadi pudar atau kusam seiring lamanya penggunaan. Tingkat kepudaran atau kekusaman warna akan mengubah keaslian plate untuk alat uji sehingga akan mempengaruhi keakuratan hasil tes           (Viyata, 2014).
Tes Ishihara adalah sebuah metode pengetesan buta warna yang dikembangkan  leh Dr. Shinobu Ishihara. Tes ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1917 di Jepang. Sejak saat itu, tes ini terus digunakan di seluruh dunia, sampai sekarang. es buta warna Ishihara terdiri dari lembaran yang didalamnya terdapat titik-titik dengan berbagai warna dan ukuran. Titik berwarna tersebut disusun sehingga embentuk lingkaran. Warna titik itu dibuat sedemikian rupa sehingga orang buta warna tidak akan melihat perbedaan warna seperti yang dilihat orang normal. Tes berikutnya adalah tes Farnsworth Munsell. Tes ini berfungsi sebagai tes lanjutan dari tes Ishihara yang hanya dapat menentukan kelainan partial atau tidaknya. sedangkan tes Farnsworth Munsell, bisa melakukan skrining kelemahan warna tertentu, seperti kelemahan terhadap warna merah (protan), kelemahan terhadap warna hijau (deutan), dan kelemahan terhadap warna biru (tritan) (Agusta, 2012).
Kedua tes Ishihara dan Farnsworth Munsell ini mempunyai kelemahan yaitu berupa media tes. Media yang digunakan adalah lembaran kertas bagi Ishihara dan koin-koin warna dari kertas bagi tes Farnsworth Munsell. Media tes ini sendiri hanya dapat dilakukan pada ruangan bercahaya putih dengan intensitas penerangan yang cukup, sehingga melakukan tes buta warna ini tidak bisa di sembarang tempat/ruangan dengan bercahaya redup dan menggunakan cahaya kemerahan atau lampu pijar. Hal ini merupakan salah satu dari kelemahan tes konvensional, karena jika penerangan ruangan tidak sesuai dengan ketentuan standar, maka warna pada media tes pun akan berubah. Media lembaran kertas bagi tes Ishihara pun mempunyai kelemahan berupa pemudaran warna, mudah robek, dan bisa saja salah satu dari lembaran tes terselip ataupun hilang. Sedangkan media koin-koin warna pada tes Farnsworth Munsell sendiri, memiliki kelemahan berupa pemudaran warna, mudah robek, dan bentuk koin yang sangat kecil, sehingga bisa hilang atau tercecer (Agusta, 2012).


BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.    Waktu dan Tempat
Hari/Tanggal         : Kamis//26 Mei 2016
Pukul                     : Pukul 16.00 s.d 17.50 WITA
Tempat                  : Laboratorium Biologi Lantai III Barat FMIPA UNM
B.     Alat dan Bahan
           a.     Alat
                       1.     Pulpen
           b.    Bahan
1.      Probandus
2.      Buku petunjuk buta warna (Buku ishihara)
C.      Prosedur Kerja
a.    Dua anggota kelompok menjadi naracoba dan pembanding.
b.   Alat yang di gunakan adalah Ishihara test for colour blindness yang terdiri atas 14 gambar      warna.
c. Meletakkan alat uji pada jarak 75 cm dari naracoba ke pembanding dengan penyinaran matahari yang cukup secara tidak langsung. Alat harus di angkat dengan sudut tegak, lururs dengan garis penglihatan.
d.   Kemudian berturut-turut penguji menunjukkan gambar 1 sampai nomor 1. Setiap kali mwlihat satu gambar diberikan waktu selama 5 detik, kemudian menyebutkan gambar yang dilihatnya.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil Pengamatan
Data Pribadi
No
Terlihat Probandus
Terlihat Pembanding
Keterangan
1
12
12

2
8
8

3
5
5

4
29
29

5
74
74

6
7
7

7
45
45

8
2
2

9
2
2

10
16
16

11



12
35
35

13
96
96

14



Data Kelas
No
Nama
Ya
Tidak
1
Fitriani


2
Sinta


3
Widya


4
Mauliani


5
Vera


6
Ainun


7
Qadri


8
Wahyu


9
Rusnita


10
Jihadi


11
Fitriandani


12
Nurhuda


13
Rabiatul


14
Hasriana


15
Elsa


16
Yuliana


17
Marina


18
Azizah


19
Dhia


20
Nurfajrianti


21
Anita


22
Demmanyai


23
Alvia


24
Athifatul


25
Agung


26
Rhoiha


27
Fajri


28
Gunadi


29
Ogy


30
Ningsih


31
Resky


32
Ayu


33
Varadillah


34
Aprilyani


35
Windy


36
Fadilah


37
Ilmi


38
Sinta


39
Sri


40
Husnil


41
Iksan


42
Anggelina


43
Intan


44
Khairul


45
Herni


46
Fajryani


47
Auliyah Mis


48
Khalifah


49
Indra


50
Aisyah


51
Supriadi


52
Ulfa


53
Fadil



B.     Pembahasan
Berdasarkan kegiatan praktikum Anatomi dan Fisiologi Manusia yang telah dilaksanakan mengenai Tes Buta Warna, maka diperoleh hasil yang baik, yang dimaksudkan baik adalah semua probandus uang telah diuji memiliki mata yang normal. Hal ini terlihat setelah probandus di tes menggunakan tes buta warna dengan metode ishihara dimana probandus dapat menyebutkan semua pola warna yang terdapat pada buku ishihara tersebut.
Perlu kita ketahui bahwa buta warna ini disebabkan oleh jumlah banyak tidaknya sel kerucut dalam mata. Buta warna bervariasi, mulai dari yang parsial (sebagian) hingga buta warna total. Buta warna parsial artinya penderita tidak dapat membedakan antara warna merah dengan hijau, antara warna hijau dengan biru. hijau dan biru sangat sedikit. Buta warna total artinya penderita tidak memiliki sel kerucut merah, hijau dan biru sehingga warna yang bisa di lihat hanya warna hitam dan putih.
Lebih jelasnya, buta warna merupakan gangguan herediter yang lazim di derita pria daripada wanita. Buta warna bervariasi antara buta satu warna tertentu (buta warna parsial) sampai buta warna total. Terjadinya buta warna ini di sebabkan oleh tidak adanya atau ada tetapi sedikit sel kerucut warna merah dan hijau. Bila tidak ada sel kerucut merah, maka warna merah akan nampak hijau. Bila sel kerucut hijau tidak ada, maka benda hiaju akan nampak merah. Bila ketiga macam sel kerucut (warna merah, hijau dan biru) tidak ada, maka semua benda akan nampak hitam dan seseorang akan menderita buta warna total (Basoeki, 2003).

 BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan, maka dapat disimpulkan bahwa semua probandus yang telah di uji dengan metode ishihara memiliki mata yang nomal atau dengan kata lain tidak buta warna. Serta diketahui bahwa buta warna disebabkan pada jumlah sel kerucut pada mata
B.     Saran
Sebaiknya dalam pengerjaan laporan tidak perlu menggambar kembali gambar yang telah jelas dan disediakan dalam penuntun.

 DAFTAR PUSTAKA
Agusta, sofiar. 2012. Instrumen Pengujian Buta Warna Otomatis. Jurusan Fisika FMIPA UI: Depok. Jurnal Ilmiah Elite Elektro Vol 3 No 1.
Basoeki, soedjono. 2003. JICA: Malang.
Taufik. 2013. Penentuan Tingkat Buta Warna Berbasis His dengan banyak Warna pada Citra Ishihara. STKIP Bina Bangsa Meulaboh: Meulaboh. Jurnal Vol 4 No 1.
Viyata, randy. 2014. Aplikasi Tes Buta Warna dengan Metode Ishihara pada Smartphone Android. Program Studi Teknik Informatika FT Universitas Bengkulu: Bengkulu. Jurnal Pseudocode Vol 1 No 1.
Taiyeb, mushawwir. 2016. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Jurusan Biologi FMIPA UNM: Makassar.


sumber
http://kotakmipa.blogspot.com/2016/12/laporan-praktikum-anfisman-tes-buta.html

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA Analisis Kromosom Manusia

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA (Analisis Kromosom Manusia)
LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA
        Analisis Kromosom Manusia  





Disusun oleh:

YENNI TYAS W.K.E  NIM 4411414013
SUSANTI     NIM 4411414038
WENDI ATANOVA  NIM 4411414034
Kelompok 6



LABORATORIUM GENETIKA
JURUSAN BIOLOGI FMIPA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
SEMARANG
2016


Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam praktikum analisa kromosom manusia ini diantaranya:
1. Menganalisis kromosom pada manusia
2. Membuat kariotip
3. Mengenal kariotp individu yang mengalami kelainan kromosom
Landasan Teori
 Kromosom pertama kali diamati oleh Karl Wilhelm von Nageli pada tahun 1842 dan ciri-cirinya dijelaskan dengan detail oleh Walther Flemming (1882). Sedangkan prinsip-prinsip klasik genetika yang merupakan pemikiran deduksi dari Gregor Johann Mendel pada tahun 1865 banyak diabaikan orang. Hingga pada tahun 1902, Walter Sutton dan Theodor Boveri menemukan kesamaan antara perilaku kromosom saat meiosis dengan hukum Mendel dan menarik kesimpulan bahwa kromosom merupakan pembawa gen. (Suryo 2010)
Kromosom berasal dari bahasa Yunani : chroma yang artinya warna dan soma yang berarti badan. Kromosom merupakan struktur di dalam sel berupa deret panjang molekul yang terdiri dari satu molekul DNA dan berbagai protein. Kromosom berisi informasi genetik suatu organisme, seperti molekul kelima jenis histon dan faktor transkripsi yang terdapat pada beberapa deret, dan termasuk gen unsur regulator dan sekuens nukleotida. (Juniarto et all 2002)
      Setiap kromosom pada genom (dengan mengecualikan kromosom-kromosom seks) di nomori secara berurutan sesuai dengan panjangnya, dimulai dengan kromosom yang paling panjang. Kromosom tumbuh – tumbuhan berukuran lebih besar dari pada kromosom hewan. Pengaturan kromosom secara standar berdasarkan panjang, jumlah serta bentuk kromosom dari sel somatic suatu individu dinamakan karyotipe (Suryo 1984).

Kromosom terbagi menjadi 2 bagian utama, yaitu sentromer dan lengan kromosom.Sentromer merupakan bagian kromosom yang berfungsi sebagai tempat melekatnya lengan kromosom. Pada permukaan luar sentromer terdapat badan protein atau kinetokor berfungsi saat replikasi dan pemisahan kromosom saat mitosis (Fairbanks & Andersen,1999).
Berdasarkan letak sentromer dapat dibedakan menjadi 4 bentuk, yaitu Metasentris (yaitu sentromer terletak median (di tengah-tengah kromosom), bentuk kromosom seperti huruf V, terbagi menjadi dua lengan sama panjang), Submetasentris (yaitu sentromer terletak submedian (ke arah salah satu ujung kromosom), bentuk kromosom seperti huruf J, terbagi menjadi dua lengan tak sama panjang), Akrosentris ( yaitu sentromer terletak subterminal (di dekat ujung kromosom), bentuk kromosom tidak membengkok melainkan tetap lurus seperti batang, satu lengan sangat pendek dan lengan lainnya sangat panjang), dan Telosentris (yaitu sentromer terletak di ujung kromosom, kromosom hanya terdiri dari sebuah lengan saja, berbentuk lurus seperti batang). (Pai 1992)
Kromosom dibedakan atas autosom atau kromosom tubuh dan kromosom kelamin atau kromosom seks . Autosom yaitu Kromosom yang tidak ada hubungannya dengan penentuan jenis kelamin. Dari 46 kromosom di dalam inti sel tubuh manusia, maka yang 44 buah (atau 22 pasang) merupakan autosom. Dan gonosom yaitu kromosom ini disebut juga dengan kromosom seks, yaitu sepasang kromosom yang menentukan jenis kelamin. Kromosom seks dibedakan atas dua macam : kromosom-X dan kromosom-Y. (Campbell  1999).
Penggolongan kromosom manusia dalam kariotipe terbagi dalam 7 grup, yaitu grup A sampai dengan grup G ( Russel,1994).
1.      Grup A. Terdiri atas kromosom nomor 1,2 dan 3. berukuran besar. Kromosom 1dan 3 digolongkan kromosom metasentrik, sedangkan kromosom 2 cenderungsubmetasentrik.
2.      Grup B. Terdiri atas kromosom nomor 4 dan 5. Digolongkan sebagaikromosom submetasentrik dan memiliki ukuran besar.
3.      Grup C. Terdiri atas kromosom nomor 16-20 ditambah kromosom X.merupakan kromosom submetasentrik berukuran sedang.
4.      Grup D. Terdiri atas kromosom nomor 13-15. Digolongkan sebagai kromosomakrosentrik dan memiliki ukuran sedang.
5.      Grup E. Terdiri atas kromosom nomor 16-18. Berukuran sedang-kecil.Kromosom 16 digolongkan sebagai kromosom metasentrik, sedangkankromosom 17 dan 18 digolongkan submetasentrik.
6.      Grup F. Terdiri atas kromosom nomor 19 dan 20. Digolongkan kromosommetasentrik dan berukuran kecil.
7.      Kromosom G. Terdiri atas kromosom nomor 19 dan 20, ditambah kromosom Y.Kromosom G termasuk kromosom akrosentrik dan berukuran kecil
Kariotipe manusia tidak normal jika jumlah nya bukan 46 atau terdapat penambahan, pengurangan atau terjadi penyusunan kromosom yang tidak sesuai. Tipe-tipe abnormalitas kromosom antara lain, polyploidy merupakan kelainan yang memiliki set kromosom berlebih. Aneuploidy, kelainan yang kehilangan atau kelebihan set kromosom. Aneuploidy terbagi dua, monosomi dan trisomi. Monosomi merupakan kelainan yang kehilangan satu kromosom, sedangkan trisomi, kelainan yang kelebihan satu kromosom. Selain dua tipe tersebut, masih ada lagi delesi (hilangnya bagian kromosom), duplikasi (bagian kromosom yang menjadi dua), inversi ( bagian kromosom yang letaknya terbalik), dan translokasi (dua kromosom yang bertukar bagiannya) (Lewis,2009).
       Berikut adalah kelainan kromosom seks atau genosom yaitu :  
·         Sindrom turner
Biasanya terjadi pada wanita, yaitu jumlah kromosomnya ada 45 buah dengan kromosom seksnya cuma 1 X, bukan XX seperti umumnya.
·         Sindrom poli-X atau superfemale
Juga terjadi pada wanita. Jumlah kromosomnya 47 XXX.
·         Sindrom kleinefelter
Biasanya terjadi pada lelaki, yaitu jumlah kromosomnya 47 XXY. Padahal, kromosom lelaki harusnya XY. Jadi, dalam kelainan ini, meski kromosomnya lelaki tapi fisiknya perempuan.
·         Sindrom Down
kromosom memiliki kelainan pada autosom nomor 21, formulanya adalah 47, XY + 21.


Alat dan Bahan
1.      Foto kromosom pada tahap metafase,gunting,lem,kertas

Langkah Kerja























Hasil Pengamatan

Tabel hasil pengamatan

Kelompok 6            Kasus Kelainan kromosom             Jenis kelamin                            Rumus
 1                             Normal                                            Laki-laki                                   46,XY
 5                             Down Sindrome                              Perempuan                               47,XX+21

Pembahasan


Kromosom merupakan sel pembawa gen yang berada di dalam nukleus atau inti sel. Inti sel mengandung substansi genetik yang ada di dalam kromosom. Kromosom juga dapat diartikan sebagai badan yang dapat menyerap warna. Semua aktifitas sel diatur oleh nukleus atau inti sel. Sel merupakan satuan terkecil dari makhluk hidup. Kromosom ialah benda-benda halus yang berbentuk lurus seperti batang yang ada dalam inti sel. Kromatin merupakan zat penyusun dalam kromosom yang menjalin benang-benang halus yang berada didalam plasma inti (Sugiharto, 2010).
Tujuan memahami kariotipe manusia normal adalah untuk mengetahui gambaran kromosom manusia normal dan mendeteksi abnormalitas pada tingkat kromosom (Suryo, 1994). Menurut Pai (1982) Karyotipe merupakan tampilan visual kromosom setiap individu. Sedangkan menurut Clarke (1996) salah satu manfaat karyotipe adalah tes untuk mendeteksi beberapa kelainan yang berhubungan dengan struktur dan jumlah kromosom. Karyotipe dibuat apabila ada dugaan kelainan kromosom pada suatu individu. Karyotipe manusia tidak normal jika jumlahnya bukan 46 atau terjadi penambahan, pengurangan atau penyusunan kromosom yang tidak sesuai. Terjadinya kelainan pada jumlah kromosom manusia disebabkan adanya mutasi kromosom yang terjadi pada fase metaphase ketika fertilisasi. Mutasi kromosom yang terjadi karena perubahan jumlah kromosom (ploid) melibatkan kehilangan atau penambahan perangkat kromosom (genom) disebut euploid, sedang yang hanya terjadi pada salah satu kromosom dari genom disebut aneuploid. Macam-macam aneuploid di antaranya adalah monosomik (2n-1) yaitu mutasi karena kekurangan satu kromosom, nullisomik (2n-2), yaitu mutasi karena kekurangan dua kromosom, trisomik (2n+1) yaitu mutasi karena kelebihan satu kromosom, dan tetrasomik (2n+2) yaitu mutasi karena kelebihan dua kromosom (Lewis, 2009)
Adapun hasil yang kami peroleh setelah seluruh kromosom disusun berdasarkan urutan dan bentuknya diperoleh hasil bahwa pada kasus nomer 1tidak mengalami kelainan kromosom atau normal dengan rumus 46 XY, jenis kelamin laki-laki
Gambar lembar analisis karyotipe kasus nomer 1






Sedangkan hasil yang kami peroleh dari analisis foto karyotipe setelah seluruh kromosom disusun berdasarkan urutan dan bentuknya diperoleh hasil bahwa pada kasus nomer 5 mengalami kelainan kromosom yaitu sindrome down kelainan tersebut terjadi pada kromosom nomer 27 dimana pada kromosom tersebut terdapat 3 kromosom, sehingga diperoleh rumus 47 XX + 21 berjenis kelamin perempuan.
Gambar lembar analisis karyotipe kasus nomer 5


Kelainan ini disebut dengan menggunakan nama Langdon-Down, yang disebabkan oleh adanya autosom kecil. Yang mula-mula memeriksa kondisi ini pada tahun 1866 dan meskipun kadang-kadang masih disebut mongolisma karena penderita bermata sipit dan muka sedikit rata. Ciri-ciri lainya yaitu retardasi mental, IQ: 25-50, jarak mata lebar (hipertelorisme), hidung datar dengan pangkal pipi, tangan/jari pendek, terdapat simian crease. Ada kelainan jantung. Kelainan down nyndrome (trisomo 21) ini terletak adanya kelainan pada autosom (Anna, 1992). Pada sindrom down ini terjadi tambahan kromosom 21 yang disebut trisomi (2n+1). Dimana individu diploid mempunyai kelebihan sebuah kromosom tunggal. Penderita down syndrome dapat laki-laki atau perempuan dengan formula kromosom penderita Perempuan = 22AXX,+21 atau 47,XX,+21.
Sindrom down adalah gangguan genetik yang terjadi pada sekitar 1 dari 800 kelahiran hidup dengan penyebab utama gangguan kognitif. Sindrom down mulai dari ringan sampai sedang dikaitkan dengan ketidakmampuan belajar, keterlambatan perkembangan, karakteristik fitur wajah, dan otot rendah pada awal masa bayi. Banyak orang dengan sindrom down juga memiliki cacat jantung, leukemia, awal-awal penyakit Alzheimer, masalah gastrointestinal, dan masalah kesehatan lainnya.
Pengertian sindrom down (dalam istilah medis disebut trisomi 21), adalah suatu kondisi di mana bahan genetik tambahan menyebabkan keterlambatan dalam cara seorang anak berkembang, baik secara mental dan fisik. Fitur fisik dan masalah medis yang terkait dengan sindrom down dapat bervariasi dari satu anak denga anak lainnya. Sementara beberapa anak dengan down sindrom membutuhkan banyak perhatian medis, yang lain menjalani kehidupan yang sehat. Perlu diketahui bahwa penyakit sindrom down tidak dapat dicegah, namun sindrom down dapat dideteksi sebelum anak lahir atau pada masa prenatal (masih dalam kandung. Biasanya, pada saat pembuahan bayi mewarisi informasi genetik dari orang tua dalam bentuk 46 kromosom: 23 dari ibu dan 23 dari ayah. Dalam sebagian besar kasus sindrom Down, seorang anak mendapat ekstra kromosom 21 – dengan total 47 kromosom, bukan 46. Mengingat pengertian sindrom down, maka di dapatkan sebuah penalaran bahwa materi genetik tambahan inilah yang menyebabkan fitur fisik dan keterlambatan perkembangan yang berhubungan dengan penyakit sindrom down.

Meskipun tidak ada yang tahu pasti mengapa down sindrome terjadi dan tidak ada cara untuk mencegah kesalahan kromosom yang menyebabkan hal tersebut, para ilmuwan tahu bahwa wanita dengan usia 35 atau lebih memiliki risiko lebih tinggi secara signifikan untuk memiliki anak dengan kondisi tersebut. Pada usia 30 tahun misalnya, seorang wanita memiliki sekitar 1 dalam 900 kesempatan mengandung seorang anak dengan sindrom down. Anak-anak dengan sindrom Down cenderung untuk berbagi ciri fisik tertentu seperti profil wajah datar, miring ke atas mata, telinga kecil, dan lidah yang menonjol. Otot nada rendah (disebut hypotonia) juga karakteristik anak dengan down sindrome. Walaupun ini dapat dan sering meningkatkan dari waktu ke waktu, kebanyakan anak-anak biasanya mencapai tahap perkembangan seperti duduk, merangkak, dan berjalan apalagi jika mendapatkan terapi sindrom down.
Sindrom down mempengaruhi kemampuan anak untuk belajar dengan cara yang berbeda, sebagian besar memiliki gangguan intelektual ringan sampai sedang. Anak-anak dengan penyakit sindrom down bisa belajar, dan mampu mengembangkan keterampilan sepanjang hidup mereka. Mereka hanya mencapai tujuan dengan kecepatan yang berbeda (Russel,1994).


Kesimpulan

Dari praktikum analisis kromosom manusia dapat disimpulkan bahwa :
1. Kromosom normal pada manusia berjumlah 46 atau 23 pasang, terdiri dari 22 pasang autosom dan 2 kromosom sex : XX untuk perempuan dan XY untuk laki-laki
2. Karyotipe pada manusia normal yaitu 22AA  + XX untuk perempuan dan 22AA + XY  untuk laki-laki
3. Kariotp individu yang mengalami kelainan Sindrom Down (jumlah kromosom 21 formula  47, XY + 21, Sindrom Turner (Jumlah kromosom 45 formula 45, X0), Sindrm Klinefelter (jumlah kromosom 47 formula 47, XXY), DAN Sindrm Triple X (jumlah kromosom 47, XXX)





























DAFTAR PUSTAKA


Campbell, Neil. (1999). Biologi Campbell Jilid I. Jakarta : Erlangga.

Clarke, Cyril A. 1996. Genetika Manusia dan Kedokteran.Jakarta: WidyaMedika.

Fairbanks, D. J. & Andersen. 1999. Genetics : Thecontinuity of life. Brooks/Cole PublishingCompany, Pacific Grove:xii : 617
Juniarto, Achmad Zulfa dan Juwono. 2002. Biologi Sel. EGC. Jakarta
Lewis, R. 2009. Human genetics concept and applications. Mc Graw Hill. New York  : 512
Pai, Anna C. 1992. Dasar-dasar Genetika. Erlangga. Bandung
Russel, Peter J. 1994. Fundamentals of genetics.Harper Collins College Publishers, Inc., NewYork: xvi : 528

Sugiharto, Bowo. 2010. Kromosom Manusia. Yogyakarta: UGM
Suryo, Ir. H. 2010. Genetika Manusia (cetakan ke-10). Gajah Mada University Press. Yogyakarta
Suryo, 1984. Genetika Manusia. Yogyakarta: UGM










Lampiran
Permasalahan
1. Pada analisis kariotip yang telah disusun pada kasus nomor 1 yaitu berjenis kelamin laki-laki karena mempunyai 1 gonosom sedangkan pada kasus nomor 5 yaitu perempuan karena mempunyai 2 gonosom.
2. Pada kasus nomor 1 individu normal sedangkan pada kasus nomor 5 mengalami kelainan kromosom yaitu sindrom down yang ditendai denagn adanya kelebihan 1 kromosom pada nomor 21.
3. Pada kariotip laki-laki sama dengan kariotip perempuan hanya perbedaan pada gonosomnya.
4. Kromosom akrosentrik pada perempuan yaitu 5 sedangkan pada laki-laki ada 6.
5. Terjadinya individu dengan kelainan seperti nomor 5 yaitu karena pada kromosom tersebut gagal mengalami pindah silang.

Jawaban Pertanyaan
1. Kariotip adalah Pengaturan kromosom secara standar berdasarkan panjang, jumlah serta bentuk kromosom dari sel somatis suatu individu.
2. Kegunaan dari pembuatan kariotip adalah untuk mengetahui adanya kelainan pada kromosom baik autosom maupun gonosom.
3. Kasus kelainan yang ditemui yaitu sindrom down. Fenitipnya yaitu 47, XX + 21.


sumber
http://wendiatanova.blogspot.com/2017/11/laporan-praktikum-genetika-analisis.html

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA PERSILANGAN DIHIBRID PADA LALAT BUAH

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA PERSILANGAN DIHIBRID PADA LALAT BUAH
LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA
PERSILANGAN DIHIBRID PADA LALAT BUAH
Drosophila Melanogaster


Disusun Oleh:
Amalia Ratnasari
1001070004
Kelompok B


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2011

PERCOBAAN II
PERSILANGAN DIHIBRID PADA LALAT BUAH
Drosophila Menalogaster
A.    Tujuan
Praktikum persilangan dihibrid pada lalat buah ( D. Melanogaster ) bertujuan untuk:
-          Mengetahui parental, F1, F2  lalat buah ( D. Melanogaster ) pada botol nomor 53.
-          Membuktikan ratio perbandingan F2 dengan dua sifat beda (dihibrid) yang tidak menyimpang dengan hukum mendel II.
-          Membuat diagram persilangan mulai dari parental, F1, F2 pada botol nomor 53.
-          Membuat perhitungan dengan chi kuadrat.

B.     Tinjauan Pustaka
Hukum mendel II : pengelompokkan gen secara bebas. Dalam bahasa inggris : “ Independent Assortment of ganes.” Hukum ini berlaku ketika pembentukan gamet, dimana gen sealel secara bebas pergi ke masing-masing kutub ketika meosis. Pembuktian hukum ini dipakai pada Dihibrid atau Polihibrid, yakni persilangan dari individu yang memiliki 2 atau lebih karakter berbeda. Disebut juga Hukum Asortasi. (yatim:2003).
Hukum mendel II disebut hukum pengelompokkan gen secara bebas (dalam bahasa inggris: “ the law of independent Assortment of ganes”). Hukum ini menyatakan bahwa gen-gen dari sepasang alel memisah secara bebas ketika berlangsung pembelahan reduksi(meiosis) pada waktu pembentukkan gamet. (Suryo:1994)
Disamping melakukan percobaan dengan pewarisan satu sifat beda. Mendel juga melakukan persilangan dengan dua sifat beda. Prinsip segregasi mendel berlaku pada segregasi kromosom homolog. Mendel menyilangkan tanaman yang mempunyai dua macam alel yang berbeda. Ia menyilangkan tanaman ercis yang berwarna kuning dan berbiji bulat dengan tanaman tanaman yang berwarna hijau dan berbiji keriput. F1 penyilangan 2 parental homolog adalah dihibrid (heterozigot) untuk dua gen yang terkait individu F1 ini disebut individu dihibrid dan persilangannya disebut persilangan dihibrid. (sisunandar:2011)
Kalau disilangkan kacang ercis kuning-bulat dengan kacang ercis hijau-keriput ternyata F1 terdiri atas kacang ercis yang bijinya kuning-bulat semua. Ini menunukkan karakter kuning dan bulat sama dominan terhadap hijau dan keriput. Lalu kalau F1 melakukan penyerbukan sendiri, terdapat F2 yang bukan terdiri atas 2 kelas saja fenotipenya tapi ada 4 kelas. Keempat kelas fenotipe F2 yaitu: kuning-bulat, kuning-keriput, hijau-bulat, hijau keriput. (yatim:2003)
Ratio perbandingan F2 kalau dijumlahkan semua yang memiliki karakter sama dari keempat macam itu, akan didapat : 9 kuning-bulat : 3 kuning-keriput : 3 hijau-bulat : 1 hijau-keriput. Bila disingkat : Ratio Fenotipe dihibrid F2 : 9 : 3 : 3 : 1 (yatim : 2003)
Berlakunya hukum mendel II yaitu ketika terjadinya meiosis pada gametogonium individu yang memiliki genotipe double-heterozigot, triple-heterozigot, atau poli-hiterozigot, dan seterusnya sesuai dengan jenis hibridnya, apakah di, tri atau poli-hibrid. Sesuai anafase I saat pemisaahan dan pengelompokkan gen-gen secara bebas, ke kutub atas atau ke kutub bawah (yatim:2003)

C.     Alat dan bahan
Alat                                                              
-          Botol kultur                                      
-          Botol Eterasi
-          Sterofom
-          Pipet tetes
-          Cawan petri
-          Botol pembunuh
-          Sumbat gabus
-          Selembar kertas putih
-          Kaca pembesar
-          Kapas


Bahan
-          Lalat buah ( D. Melanogaster )
-          Eter ( dieter etil )
-          Larutan sabun detergen

D.    Cara kerja
1.      Memegang botol kultur dan menyentakkan ke bantalan sterofom secara perlahan-lahan.
2.      Membuka gabus botol kultur kemudian mempertautkan botol kultur dengan botol eterasi secara perlahan-lahan.
3.      Mengarahkan botol kultur kearah sumber cahaya kemudian dengan tangan kanan memutar botol kultur agar lalat buah yang ada di botol kultur berpindah ke botol eterasi.
4.      Memegang botol eterasi yang masih mengarah kesumber cahaya kemudian segara menyumbat dengan gabus.
5.      Meneteskan 3-4 tetes eter(dietil eter) pada lubang yang diberi kapas pada botol eterasi.
6.      Meletakkan kapas yang sudah ditetesi 2-3 tetes eter(dietil eter) pada cawan petri.
7.      Setelah semua lalat yang berada pada botol eterasi pingsan maka lalat dipindahkan dari botol kultur ke cawan petri yang sudah berisi kapas yang telah ditetesi eter.
8.      Melakukan perhitungan pada lalat yang berada di cawan petri dengan menggunakan kuas dan kaca pembesar.
9.      Jika dalam perhitungan lalat sadar kembali maka dibius lagi dengan cara meneteskan 2-3 tetes eter(dietil eter) pada kapas yang berada pada cawn petri.
10.  Jika perhitungan telah selesai maka lalat dibuang dalam botol pembunuh yang berisi sabun detergen.




E.     Hasil

Pada botol nomor 53 diketahui bahwa:
1.      Parentalnya yaitu Curled (cucu) dan Black (bb)
2.      Perbandingan chi kuadrat.
Dari persilangan yang telah diamati dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:
Ho : Data yang diperoleh tidak ada perbedaan dengan Hukum Mendel II
Ha : Data yang diperoleh ada perbedaan dengan Hukum Mendel II
Untuk membuktikan hipotesis diatas, maka dilakukan perhitungan sebagai berikut:

Normal
Curled
Black
Curled Black
Jumlah
Jumlah individu yang diamati (ft)
124
57
54
16
251
Jumlah Individu yang diharapkan (Ft)
 x 251= 141,1875
 x 251=
47,0625

 x 251 =
47,0625
 x 251 =
15,5675
250,88

Derajat kebebasan (dk) = k - 1
                                      = 4 – 1
                                      = 3

X2 =  +  +  +
      =  +  +  +
      = 2,0923 + 2,0983 + 1,0226 + 0,0120
      = 5,2252

Maka diperoleh Xhitung 5,2252
Persilangan Dihibrid
X2tabel = 7,815


Hipotesis :
Dari data yang diperoleh jika dibandingkan dengan tabel chi kuadrat (7,815) maka hasil tersebut lebih kecil dari tabel. Dapat disimpulkan Xhitung < X2tabel sehingga Ho diterima. Artinya data yang diperoleh tidak ada perbedaan dengan Hukum Mendel II atau tidak menyimpang dari Hukum Mendel II.
3.      Diagram persilangan
P          ♂  Curled                    X                     ♀ Black
            (cucuBB)                                             (CuCubb)
Gamet      cuB                                                 Cub

F1                                             CucuBb
F2                CucuBb                 X                     CucuBb
Gamet yang dibentuk :

Cu                   B
cu                    b


tabel persilangan
♂                    ♀
CuB
Cub
cuB
Cub
CuB
CuCuBB
CuCuBb
CucuBB
CucuBb
Cub
CuCuBb
CuCubb
CucuBb
Cucubb
cuB
CucuBB
CucuBb
cucuBB
cucuBb
Cub
Cucubb
Cucubb
cucuBb
Cucubb

·         Maka diperoleh perbandingan
CuCuBB : CucuBB : CuCuBb : CucuBb : cucuBB : cucuBb : CuCubb : Cucubb : cucubb
           1        :       2       :       2       :       4      :      1       :      2       :      1      :      2       :     1
                                                                                                         

                        9 Normal                   : 3 curled                :          3 black       : 1 curled black
·         Sehingga diperoleh ratio generasi F2
Normal : Curled : Black : Curled black
      9      :     3      :    3      :        1


F.      Pembahasan.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan pada botol nomor 53 diketahui bahwa:
Parentalnya yaitu curled (cucuBB) yang memiliki tubuh dengan ciri-ciri tubuh coklat, dan sayap melengkung dan black(cucubb) yang memiliki ciri-ciri tubuh hitam,  sayap panjang.
Setelah dihitung perbandingan chi kuadratnya di peroleh 5,2252 yang mana hasilnya lebih kecil dari pada tabel chi kuadrat dengan derajat kebebasan 3 yaitu 7,815 atau dengan kata lain Xhitung < X tabel artinya sehingga menerima Hipotesis Nol(Ho).
Yang mana hipotesis nol itu sendiri artinya data yang diperoleh sesuai atau tidak menyimpang dengan Hukum mendel II.

            Hukum Mendel II berbunyi : “pengelompokkan gen secara bebas” dalam bahasa inggris “ Independent Assortment of Genes”. Pembuktian hukum ini dipakai pada dihibrid atau polihibrid yaitu persilangan yang memiliki 2 atau lebih karakter berbeda(yatim:2003). Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan pada botol 53 yaitu persilangan antara curled (cucu) yang memiliki cirri-ciri tubuh coklat, sayap melengkung dengan black(bb) yang memiliki cirri-ciri tubuh hitam, sayap panjang.
Pada persilangan antara curled(cucuBB) dan black(CuCubb) diperoleh F1 normal yaitu CucuBb. Yang mana F1 disilangkan dengan F1 ( CucuBb X CucuBb) , sehingga muncul 4 gamet yang dibentuk yaitu CuB, Cub, cuB, dan cub.
Keempat gamet tersebut muncul karena persilangan dua sifat beda yang terletak pada kromosom yang berlainan yaitu kromosom nomor 2 dan nomor 3 akan bersegrasi secara bebas pasa tahap metaphase 1 dari pembelahan meiosis, terjadi pemisahan kromosom secara bebas dengan susunan sembarang dengan menghasilkan empat macam fenotipe dengan perbandingan  9 : 3: 3 :1. (sisunandar:2011)
            F2 diperoleh perbandingan
CuCuBB : CucuBB :CuCuBb : CucuBb : cucuBB : cucuBb : CuCubb : Cucubb : cucubb
        1       :      2       :       2      :      4       :      1       :       2     :       1        :      2     :      1


                        9 normal                                  3 curled                      3 black         1
Sehingga diperoleh perbandingan ratio generasi F2 yaitu:
9 normal : 3 Curled : 3 Black : 1 curld black. Hasil ini berarti data yang diperoleh tidak menyimpang dari hukum mendel II.
Dengan data pendekatan yaitu normal  x 251 = 141,1875
Curled  x 251 = 47,0625.   Black  x 251 = 47,0625. Curled black   x 251 = 15,5675


G.    Kesimpulan
·         Pada botol nomor 53 parentalnya adalah curled(cucu) dan black(bb)
·         Xhitung < X2 tabel
5,2252 < 7,815 maka Hipotesis nol diterima artinya data yang diperoleh tidak ada perbedaan dengan Hukum Mendel II.
·         Diperoleh F1 yaitu CucuBB atau normal
·         Diperoleh ratio generasi F2 yaitu 9 normal : 3 curled : 3 black : 1 curled black.
·         Pengamatan yang dilakukan pada botol nomor 53 tidah menyimpang dengan hukum mendel II.
·         Dihibrid adalah persilangan dari individu yang memiliki 2 sifat berbeda.















DAFTAR PUSTAKA

Sisunanadar, 2011. Penuntun Praktikum Genetika. Purwokerto : Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Suryo, 1994 . Gnetika Stratal. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
Yatim wildan, 2003 . Genetika edisi ke 5. Bandung : Tarsito

sumber
http://amalia-ratnasari.blogspot.com/2012/08/laporan-praktikum-genetika-persilangan_13.html

LAPORAN PRAKTIKUM BIOTEKNOLOGI PEMBUATAN TAPAI (TAPE)

LAPORAN PRAKTIKUM BIOTEKNOLOGI PEMBUATAN TAPAI (TAPE)


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Secara umum, Negara yang beranda di benua Asia, terkenal sebagai Negara dengan keragaman kuliner. Seperti china, korea, dan lainnya tak terlepas pula di Indonesia. Di Indonesia sendri hampir disetiap daerah memiliki makanan dengan ciri khas tersendiri. Selain karena kekhasan dan keunikan makanan tiap daerah, harga makanan yang murah juga membut Indonesia sebagai Negara wisata kuliner yang tak jarang banyak sekali orang-orang yang melakukan wisata kuliner yang bahkan pengunjunganya sampai pada warga mancanegara.
Salah satu makanan khas dari Indonesia adalah tapai. Tapai merupakan makanan tradisional yang sangat populer dan digemari di masyarakat. Tidak. Hal ini tidak lain karena rasanya yang nikmat, harga yang murah dan tentunya mengandung gizi yang baik dan tentunya karena proses pembuatannya yang dapat dikatakan sangatlah mudah sehingga dapat dibuat dirumah sendiri dikarenakan bahan yang mudah didapatkan, serta proses pembuatannya hanya menggunakan peralatan dapur sedernaha. Bahan pokok pembuatan tempe biasanya menggunakan beras ketan, namun tidak hanya menggunakan beras ketan, tapai juga dapat dibuat dari singkong, pisang dan bahan lainnya. Namun pada praktikum kali ini akan dilakukan pembuatan tapai menggunakan beras ketan
Jika ditinjau dari proses pembuatan, dapat diketahui bahwa tapai merupakan salah satu produk bioteknologi berbasis konvensional. Hal ini karena melibatkan mikrobia eukariotik yaitu jamur yang biasanya diperoleh dari ragi artinya di dalam ragi tersebut mengandung jamur yaitu Sacchoromiyces cerevicae. Sacchoromiyces cerevicae berperan  dalam mengubah karbohidrat menjadi alcohol dan karbondioksoda melalui proses fermentasi. Melihat dari konsumsi masyarakt yang gemar mengonsumsi tapai, maka penting diadakan praktikum ini, selain itu, sebagai tambahan pengetahuan pembuatan produk bioteknologi konvensional.
B.  Tujuan
Mengatahui cara pembuatan tapai dengan baik dan benar serta  mengetahui karakteristik tapai yang memiliki kualitas yang baik.
C.  Manfaat
Praktikan mengetahui cara pembuatan tapai dengan baik dan benar. serta  mengetahui karakteristik tapai yang memiliki kualitas yang baik.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tapai merupakan hasil dari proses fermentasi dari bahan-bahan yang mengandung karbohidrat seperti beras ketan dan ubi kayu. Dalam proses fermentasi yang melibatkan aktifitas mikroorganisme ini terjadi proses pengubahan karbohidrat menjadi etanol, sehingga bahan makanan hasil fermentasi menjadi lebih enak rasanya (Sutanto, 2006).
Tapai mempunyai rasa sedikit manis dengan sedikit rasa alkohol dan aroma semerbak yang khas. Tekstur lunak dan berair serta mengasilkan cairan yang merupakan efek dari efek fermentasi. Rasa manis pada tapai dipengaruhi oleh kadar gula dari tapai itu sendiri. Tetapi kadang – kadang pada sejenis tapai tertentu timbil rasa asam agak menyengat. Hal ini biasanya disebabkan oleh perlakuan selama proses pembuatan yang kurang teliti, misalnya penambahan ragi yang terlampau banyak, penutupan yang kurang sempurna selama proses fermentasi berlangsung, ataupun karena proses fermentasi yang terlalu lama (Oyon Suwaryono dan Yusti Ismaeni, 1987 dalam Santosa, 2010).
Fermentasi merupakan suatu cara yang telah dikenal dan digunakan sejak lama sejak jaman kuno. Fermentasi merupakan suatu cara untuk mengubah substrat menjadi produk tertentu yang dikehendaki dengan menggunakan bantuan mikroba.  Bioteknologi berbasis fermentasi sebagian besar merupakan proses produksi barang dan jasa dengan menerapkan teknologi fermentasi atau yang menggunakan mikroorganisme untuk memproduksi makanan dan minuman seperti: keju, yoghurt, minuman beralkohol, cuka, sirkol, acar, sosis, kecap, dll (Nurcahyo, 2011).
Fermentasi mempunyai pengertian aplikasi metabolisme mikroba untuk mengubah bahan baku menjadi produk yang bernilai lebih tinggi, seperti asam-asam organik, protein sel tunggal, antibiotika dan biopolimer. Fermentasi merupakan proses yang relatif murah yang pada hakekatnya telah lama dilakukan oleh nenek moyang kita secara tradisional dengan produk-produknya yang sudah biasa dimakan orang sampai sekarang, seperti tempe, oncom, tapai,  dan lain-lain (Nurhayani, 2001).
Diantara bahan dasar pembuatan tapai yang sering digunakan adalah beras ketan baik yang hitam maupun yang putih. Tapai dari beras ketan inilah yang paling banyak dijumpai di toko-toko makanan maupun di Super Market. Namun demikian juga belum diketahui apakah ada perbedaan kandungan etanol dalam tapai yang dihasilkan pada pembuatan dengan kedua macam beras ketan tersebut, sehingga dalam penelitian ini akan dipelajari perbedaan kandungan etanol dalam tapai yang dihasilkan dari bahan dasar beras ketan hitam dan putih dan dengan menggunakan beberapa macam pembungkus yang berbeda yaitu dengan daun, plastik dan gelas (Sutanto, 2006).
Beras, ketan, jagung dan ketela pohon, dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan tapai. Bahan-bahan tersebut dikukus hingga matang, dihamparkan ditampah dan setelah dingin dibubuhi ragi, kemudian campuran itu ditaruh dalam belangga, ditutup dengan daun pisang dan disimpan dalam tempat yang sejuk. Tak lama kemudian berkhamirlah karena daya kerja organismeorganisme yang terdapat dalam ragi (Heyne, 1987 dalam Berlian, 2016).
Pada proses pembuatan tapai, masyarakat biasanya menggunakan daun pisang sebagai pembungkusnya. Dengan semakin sulitnya mendapatkan daun terutama di daerah perkotaan maka masyarakat beralih ke pembungkus atau wadah alternatif yang lebih mudah diperoleh untuk proses pembuatan tapai seperti plastik, gelas dan wadah yang lain. Namun demikian belum diketahui apakah wadah fermentasi dalam pembuatan tapai ini berpengaruh terhadap kandungan etanol dalam tapai yang dihasilkan (Sutanto, 2006).
Perbedaan waktu fermentasi dapat menghasilkan perbedaan pertumbuhan mikroorganisme. Semakin lama waktu fermentasi maka mikroorganisme yang tumbuh  semakin banyak sampai nutrisi dimedia tersebut habis. Proses pemecahan karbohidrat dipengarhui aktivitas mikroorganisme. Dari hasil fermentasi yang dilakukan, didapatkan pertumbuhan dan tinggi mikroorganisme yang tertinggi adalah waktu fermentasi 9 hari. Hal ini dikarenakan adanya aktivitas mikroorganisme yang optimal, sedangkan pada fermentasi hari ke 0 mikroorganisme belum tumbuh dan fermentasi hari ke 3 didapatkan pertumbuhan dan tinggi mikroorganisme rendah (Hidayati, 2013).
Pada proses pembuatan tapai, khamir dan kapang merupakan mikrobia yang mengubah karbohidrat yang terkandung dalam bahan, menjadi gula. peranan ragi dalam pembuatan tape adalah mengubah gula menjadi alkohol. rasa manis pada tape dipengaruhi oleh kadar gula yang ada dalam tape tersebut. dalam proses pembuatan tape, kadang-kadang sering dijumpai adanya tape yang berasa masam. hal ini dapat disebabkan oleh adanya kontaminasi sejenis bakteri karena proses pembuatan tape yang kurang teliti, misalnya penambahan ragi yang berlebihan dan penutupan bahan pada saat fermentasi berlangsung serta waktu fermentasi yang terlalu lama (Rukamana, 2001).




BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.  Waktu dan Tempat
Hari/Tanggal           : Kamis, 1 Desember 2016
Waktu                     : Pukul 15.00-16.40 WITA
Tempat                   : Laboratorium Biologi Lantai 3 Barat FMIPA UNM
B.  Alat dan Bahan
1.    Alat
a.     Dandang
b.    Baskom
c.     Sendok kayu
d.    Talang
e.     Toples
2.    Bahan
a.    Ketan hitam
b.    Ragi tape
c.    Gula pasir halus
d.   Daun pisang secukupnya
C.  Prosedur Kerja
1.    Mencuci ketan dan membuang kotoran yang ada pada butiran beras ketan.
2.    Memasukkan beras ketan ke dalam baskom kemudian diberi air sampai menutupi beras ketan. Membiarkan beras ketan selama 10-12 jam.
3.    Mencuci kembali sampai bersih kemudian dikukus seperti cara mengukus nasi biasa. Setelah setengah matang lalu diangkat.
4.    Menaruh beras ketan yang setengah matang tersebut di atas talang kemudia diratakan. Hal tersebut bertujuan agar nasi ketan setengah matang yang baru dipanaskan dapat dingin secara merata.
5.    Menaburkan ragi yang sudah dihaluskan secara merata, menambahkan pula gula halus secukupnya jika suka.
6.    Memasukkan ketan yang telah bercampur ragi dan gula ke dalam toples.
7.    Menutup toples dengan rapat agar udara dari luar tidak masuk ke dalam toples lalu diamkan selama 2-3 hari.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.  Hasil Pengamatan
Foto Tape Hari Terakhir
Aroma
Tekstur
Rasa

Berbau alkohol
Ada yang keras dan ada yang lunak dan berair
Sedikit manis

B.  Pembahasan
Tapai merupakan hasil dari proses fermentasi dari bahan-bahan yang mengandung karbohidrat seperti beras ketan dan ubi kayu. Dalam proses fermentasi yang melibatkan aktifitas mikroorganisme ini terjadi proses pengubahan karbohidrat menjadi etanol, sehingga bahan makanan hasil fermentasi menjadi lebih enak rasanya (Sutanto, 2006).
Tapai mempunyai rasa sedikit manis dengan sedikit rasa alkohol dan aroma semerbak yang khas. Tekstur lunak dan berair serta mengasilkan cairan yang merupakan efek dari efek fermentasi.  Rasa  manis pada tapai dipengaruhi oleh  kadar gula dari tapai itu sendiri (Oyon Suwaryono dan Yusti Ismaeni, 1987 dalam Santosa, 2010).
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa tapai yang telah disimpan selama 3 hari mengalami perubahan rasa dan aroma. Jika di analisis, hal ini berkesesuaian dengan pendapat yang dikemukakan oleh Hidayati (2013) yang mengatakan bahwa “fermentasi hari ke 3 didapatkan pertumbuhan mikroorganisme rendah”. Hasil pengamatan menyatakan bahwa tapai memiliki aroma berbau alcohol dengan rasa yang agak manis. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Rukmana (2001) bahwa “Pada proses pembuatan tapai, khamir dan kapang merupakan mikrobia yang mengubah karbohidrat yang terkandung dalam bahan, menjadi gula. peranan ragi dalam pembuatan tape adalah mengubah gula menjadi alkohol. rasa manis pada tape dipengaruhi oleh kadar gula yang ada dalam tape tersebut”.
Perubahan-perubahan yang terjadi secara umum berkesesuain dengan teori yang ada, hasil tapai yang dibuat tidak maksimal karena tapai masih memiliki tekstur yang agak keras dan belum memiliki banyak air serta rasa yang belum terlalu manis. Hal ini dikarenakan waktu fermentasi yang singkat yaitu hanya selama 3 hari, sedangkan menurut Hidayati (2013) “fermentasi hari ke 3 didapatkan pertumbuhan mikroorganisme rendah dan didapatkan pertumbuhan dan tinggi mikroorganisme yang tertinggi adalah waktu fermentasi 9 hari”.




BAB V
KESIMPULAN
A.  Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan, secara umum hasil pembuatan tapai berkesesuain dengan teori yang ada, hasil tapai yang dibuat tidak maksimal karena tapai masih memiliki tekstur yang agak keras dan belum memiliki banyak air serta rasa yang belum terlalu manis. Hal ini dikarenakan waktu fermentasi yang singkat yaitu hanya selama 3 hari,
B.  Saran
Sebaiknya dilakukan inovasi pembuatan tapai, sehingga praktikan tidak hanya mengetahui cara pembuatan tapai secara umum namun dapat melakukan inovasi-inovasi.




DAFTAR PUSTAKA
Berlian, Zainal. Dkk. 2016. Jurnal Biota. Uji Kadar Alkohol Tapai Ketan Putih Singkong  Melalui  Fermentasi  dengan  Dosis  Ragi yang Berbeda. Vol. 2 No. 1.

Hidayati, Darimiyya. Dkk. 2013. Argointek. Pola Pertumbuhan Ragi pada Fermentasi Kulit SIngkong. Vol. 7 No. 1.

Nurcahyo, Heru. 2011. Diktat Bioteknologi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta

Nurhayani. Dkk. 2001. Peningkatan Kandungan Protein Kulit Umbi Ubi Kayu Melalui Proses Fermentasi. Vol. 6. No. 1.

Rukmana, Rahmat. Yuniarsih, Yuyun. 2001. Aneka Olahan Ubi Kayu. Yogyakarta: Kanisius

Santosa, Agus. Prakosa, Cucut. 2010. Karakteristik Tapai Buah Sukun Hasil Fermentasi Penggunaan Konsentrasi Ragi Yang Berbeda. Vol. 22. No. 73.

Sutanto, Teja Dwi. Dkk. Jurnal Gradien. Studi Kandungan Etanol Dalam Tapai Hasil Fermentasi  Beras Ketan Hitam Dan Putih. Vol. 2 No.1.

sumber 
http://kotakmipa.blogspot.com/2017/01/laporan-praktikum-biotek-tapai.html

LALAT BUAH Drosophila melanogaster

LAPORAN PRAKTIKUM
GENETIKA

PERCOBAAN III
LALAT BUAH Drosophila melanogaster
NAMA                                   : DEWI SARTIKA A
            NIM                                        : H41113332
KELOMPOK                        : IV (EMPAT) B
HARI / TANGGAL              : KAMIS, 6 MARET 2014
ASISTEN                               : FITRIAGUSTIANI
logo-unhas-warna.jpg
LABORATORIUM GENETIKA
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Genetika adalah cabang biologi yang berurusan dengan hereditas dan variasi. Unit-unit herediter yang ditramsmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya (dengan kata lain diwariskan) disebut gen. Gen terletak dalam molekul-molekul panjang asam deoksiribonukleat (deoxyribonucleic acid, DNA) yang ada di dalam semua sel. DNA, bersama dengan suatu matriks protein, membentuk nucleoprotein dan terorganisasi menjadi struktur yang disebut kromosom yang ditemukan di dalam nukleus atau daerah inti sel. Sebuah gen mengandung kode informasi bagi produksi protein. Normalnya, DNA adalah molekul yang stabil dengan kapasitas bereplikasi sendiri. Terkadang, bias terjadi perubahan spontan pada suatu DNA. Perubahan itu, disebut mutasi, dapat menyebabkan perubahan kode DNA yang mengakibatkan produksi protein yang salah satu tidak lengka (Stansfield, 2007).
Orang  yang pertama yang menggunakan Lalat buah sebagai objek penelitian Genetika adalah Thomas Hunt Morgan yang berhasil menemukan penemuan pautan seks. Spesies lalat buah, Drosophila melanogaster, sejenis serangga biasa yang umumnya tidak berbahaya yang merupakan pemakan jamur yang tumbuh pada buah. Lalat buah adalah serangga yang mudah berkembang biak. Dari satu perkawinan saja dapat dihasilkan ratusan keturunan, dan generasi yang baru dapat dikembangbiakkan setiap dua minggu. Karakteristik ini menjadikan lalat buah menjadi organisme yang cocok sekali untuk kajian-kajian genetik (Yatim,  1983).
Dalam melakukan praktikum genetika, kita semakin banyak menggunakan Drosophila sebagai dahan pemodelan genetika. Siklus hidup dari Drosophila sangat penting untuk diketahui karena denngan kita mengetahuinya kita dapat memberikan perlakuan yang sesuai dalam perawatannya.selain itu, kita dapat mengetahui kondisi yang tepatbagi masing-masing fase. Berdasarkan hal tersebut, sehingga praktikum ini dilakukan untuk bagaimana cara pembuatan medium lalat buah, dan dapat mengetahui perbedaan antara jantan dan betina serta siklus hidup dari Drosophila melanogaster (Agus dan Sjafaraenan, 2013).
1.2  Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah:
1.      Mengetahui komposisi  yang baik untuk pertumbuhan lalat buah
2.      Membuat medium biakan lalat buah dalam skala laboratorium
3.      Mengetahui morfologi lalat buah Drosophila melanogaster
4.      Mengamati pertumbuhan lalat buah yang dikawinkan
5.      Mengetahui tahapan-tahapan  dalam siklus hidup lalat buah
6.      Mengetahui pautan seks pada lalat buah.
1.3 Waktu dan Tempat Percobaan
Percobaan ini dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 21 Maret 2013, mulai pukul 14:30-18:30 WITA. Bertempat  di Laboratorium  Biololgi Dasar Lantai 1, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas  Hasanuddin, Makassar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Drosophila melanogaster, sejenis serangga biasa yang umumnya tidak berbahaya dan merupakan pemakan jamur yang tumbuh pada buah. Lalat buah adalah serangga yang mudah berkembangbiak. Dari satu perkawinan saja dapat dihasilkan ratusan keturunan, dan generasi yang baru dapat dikembangkan setiap dua minggu. Karasteristik ini menunjukkan lalat buah organisme yang cocok sekali untuk kajian-kajian genetik (Campbell, 2008).
Drosophila melanogaster merupakan jenis lalat buah yang dapat ditemukan di buah-buahan busuk. Drosophila telah digunakan secara bertahun-tahun dalam kajian genetika dan perilaku hewan.
Berikut merupakan klasifikasi dari Drosophila melanogaster (Teti, 2011):
Kingdom         : Animalia
Phillum            : Arthropoda
Kelas               : Insecta
Ordo                : Diptera
Famili              : Drosophilidae
Genus              : Drosophila
Spesies            : Drosphila melanogaster
Selain itu, menurut Wheeleer (1981) Drosophila juga diklasifikasikan ke dalam sub ordo Cyclophorpha (pengelompokan lalat yang pupanya terdapat kulit instar 3, mempunyai jaw hooks) dan termasuk ke dalam seri Acaliptrata yaitu imago menetas dengan keluar dari bagian anterior pupa .
Adapun ciri umum lain dari Drosophila melanogaster diantaranya Eltra (2012):
1.        Warna tubuh kuning kecoklatan dengan cincin berwarna hitam di tubuh bagian belakang.
2.         Berukuran kecil, antara 3-5 mm.
3.        Urat tepi sayap (costal vein) mempunyai dua bagian yang terinteruptus dekat dengan tubuhnya.
4.        Sungut (arista) umumnya berbentuk bulu, memiliki 7-12 percabangan.
5.        Crossvein posterior umumnya lurus, tidak melengkung.
6.        Mata majemuk berbentuk bulat agak ellips dan berwana merah.
7.        Terdapat mata oceli pada bagian atas kepala dengan ukuran lebih kecil dibanding mata majemuk.
8.        Thorax berbulu-bulu dengan warna dasar putih, sedangkan abdomen bersegmen lima dan bergaris hitam
9.        Sayap panjang, berwarna transparan, dan posisi bermula dari thorax.
ciri-ciri  morfologi yang membedakan Drosophila jantan dan betina antara lain (Suryo, 2008) yaitu:
Betina
Jantan
Ukuran tubuh lebih besar dari jantan
Ukuran tubuh lebih kecil dari betina
Sayap lebih panjang dari sayap jantan
Sayap lebih pendek dari pada betina
Tidak terdapat sisir kelamin (sex comb)
Terdapat sisir kelamin (sex comb)
Ujung abdomen runcing
Ujung abdomen tumpul dan lebih hitam

Alasan digunakannya Drosophilla melanogaster sebagai bahan penelitian adalah karena lalat ini memiliki beberapa keuntungan, antara lain (Suryo, 1984):
1.        Mudah diperoleh sehingga tidak menghambat penelitian
2.        Mudah dipelihara pada media makanan yang sederhana, pada suhu kamar dan  didalam botol  susus berukuran sedang
3.        Memiliki siklus hidup pendek (hanya kira-kira 2 minggu) sehingga dalam waktu satu tahun dapat diperoleh 25 generasi
4.        Mempunyai tanda-tanda kelamin sekunder yang mudah dibedakan.
5.        Hanya mempunyai delapan kromosom saja, tiga pasang kromosom autosom dan satu pasang kromosom seks.
Metamorfosis pada Drosophila termasuk metamorfosis sempurna, yaitu dari telur – larva instar I – larva instar II – larva instar III – pupa – imago. Perkembangan dimulai setelah terjadi fertilisasi, yang terdiri dari dua periode. Pertama, periode embrionik di dalam telur pada saat fertilisasi sampai pada saat larva muda menetas dari telur dan ini terjadi dalam waktu kurang lebih 24 jam. Dan pada saat seperti ini, larva tidak berhenti-berhenti untuk makan. Periode kedua adalah periode setelah menetas dari telur dan disebut perkembangan postembrionik yang dibagi menjadi tiga tahap, yaitu larva, pupa, dan imago (fase seksual dengan perkembangan pada sayap). Formasi lainnya pada perkembangan secara seksual terjadi pada saat dewasa (Silvia, 2003).
Tahap-tahap dari siklus hidup Dhrosophila melanogaster berikut ciri-cirinya, antara lain (Eltra, 2012) yaitu:
Tahapan
Ciri-Ciri
waktu
Telur
Berbentuk bulat lonjong, ukuran sekitar ± 0.5 mm, berwarna putih susu, pada ujung anteriornya terdapat dua tangkai kecil menyerupai sendok yang berfungsi agar telur tidak tenggelam, biasanya terdapat pada permukaan media.
± 24 jam
Larva instar 1
Berbentuk lonjong pipih, berwarna putih bening, berukuran ± 1 mm, bersegmen, berbentuk dan bergerak seperti cacing, belum memiliki spirakel anterior.
Larva instar 2
Berbentuk lonjong pipih, berwarna putih, berukuran ± 2 mm, bersegmen, berbentuk dan bergerak seperti cacing, memiliki mulut dan gigi berwarna hitam untuk makan, memiliki spirakel anterior.
± 2 hari
Larva instar 3
Berbentuk lonjong pipih, berwarna putih, berukuran ± 3-4 mm, bersegmen, berbentuk dan bergerak seperti cacing, memiliki mulut dan gigi berwarna hitam lebih besar dan jelas terlihat dibanding larva instar 2, memiliki spirakel anterior dan terdapat beberapa tonjolan pada spirakel anteriornya.
± 3 hari
Prapupa
Terbentuk setelah larva instar 3 merayap pada dinding botol, tidak aktif, melekatkan diri; berwarna putih; kutikula keras dan memendek; tanpa kepala dan sayap
± 4 hari
Pupa
Tidak aktif dan melekatkan diri pada dinding botol, berwarna coklat, kutikula keras, memendek, dan besegmen.
± 5 hari
Imago
Tubuh terbagi atas cephla, thorax, dan abdomen; bersayap transparan; memiliki mata majemuk biasanya berwarna merah; dan ciri-ciri lainnya menyerupai ciri lalat buah dewasa
± 9 hari

 faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada siklus hidup Drosophila melanogaster diantaranya sebagai berikut (Bohari, 2011) yaitu:
a.         Suhu Lingkungan
Drosophila melanogaster mengalami siklus selama 8-11 hari dalam kondisi ideal. Kondisi ideal yang dimaksud adalah suhu sekitar 25-28°C. Pada suhu ini lalat akan mengalami satu putaran siklus secara optimal. Sedangkan pada suhu rendah atau sekitar 180C, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan siklus hidupnya relatif lebih lama dan lambat yaitu sekitar 18-20 hari. Pada suhu 30°C, lalat dewasa yang tumbuh akan steril.
b.        Ketersediaan Media Makanan
Jumlah telur Drosophila melanogaster yang dikeluarkan akan menurun apabila kekurangan makanan. Lalat buah dewasa yang kekurangan makanan akan menghasilkan larva berukuran kecil. Larva ini mampu membentuk pupa berukuran kecil, namun sering kali gagal berkembang menjadi individu dewasa. Beberapa dapat menjadi dewasa yang hanya dapat menghasilkan sedikit telur. Viabilitas dari telur-telur ini juga dipengaruhi oleh jenis dan jumlah makanan yang dimakan oleh larva betina.
c.  Tingkat Kepadatan Botol Pemeliharaan
Botol medium sebaiknya diisi dengan medium buah yang cukup dan tidak terlalu padat. Selain itu, lalat buah yang dikembangbiakan di dalam botol pun sebaiknya tidak terlalu banyak, cukup beberapa pasang saja. Pada Drosophila melanogaster dengan kondisi ideal dimana tersedia cukup ruang (tidak terlalu padat) individu dewasa dapat hidup sampai kurang lebih 40 hari. Namun apabila kondisi botol medium terlalu padat akan menyebabkan menurunnya produksi telur dan meningkatnya jumlah kematian pada individu dewasa.
d.      Intensitas Cahaya
Drosophila melanogaster lebih menyukai cahaya remang-remang dan akan mengalami pertumbuhan yang lambat selama berada di tempat yang gelap
            Inti sel tubuh lalat buah hanya memiliki 8 buah kromosom saja, sehingga mudah sekali diamati dan dihitung. Delapan buah kromosom tersebut dibedakan atas  (Suryo, 1984) yaitu:
1.        6 buah kromosom (atau 3 pasang) yang pada lalat betina maupun jantan bentuknya sama. Karena itu kromosom-kromosom ini disebut autosom (kromosom tubuh), sisingkat dengan huruf A.
2.        2 buah kromosom (atau 1 pasang) disebut kromosom kelamin (seks kromosom), sebab bentuknya ada yang berbeda pada lalat betina dan jantan.
Kromosom kelamin dibedakan atas suryo:
1.        Kromosom X yang berbentuk batang lurus. Lalat betina memiliki 2 kromosom X.
2.        Kromosom Y yang sedikit membengkok pada salah satu ujungnya. Kromosom Y lebih pendek dari pada kromosom X. Lalat jantan memiliki sebuah kromosom X dan Y. Lalat betina normal memiliki kromosom Y. Lalat betina memiliki 2 kromosom kelamin sejenis maka lalat betina dikatakan homogametik sedangkan jantan bersifat heterogametik
Berhubungan dengan itu formula kromosom untuk lalat buah ialah sebagai berikut:
a.       Lalat betina ialah 3 AAXX (= 3 pasang autosom + 1 pasang kromosom X)
b.      Lalat jantan ialah 3 AAXY (= 3 pasangan autosom + sebuah kromosom X + sebuah kromosom Y).
Dalam keadaan normal, lalat betina membentuk satu macam sel telur saja yang bersifat haploid (3AX). Tetapi lalat jantan membentuk 2 macam spermatozoa yang haploid. Ada spermatozoa yang membawa kromosom X (3AX) dan ada yang membawa kromosom Y (3AY). Apabila sel telur itu dibuahi spermatozoon yang membawa kromosom X, terjadilah lalat betina yang diploid (3AAXX). Tetapi bila sel telur itu dibuahi spermatozoa yang membawa kromosom Y, terjadilah lalat jantan yang diploid (3AAXY). Kadang-kadang diwaktu meosis selama pembentukan sel-sel kelamin, sepasang kromosom kelamin itu tidak memisahkan diri, melainkan tetap berkumpul.  Peristiwa ini disebut “nondisjunction”. Andaikan terjadi nondisjunction selama oogenesis (pembentukan sel telur) akan terbentuk dua macam sel telur, yaitu sebuah sel telur yang membawa dua kromosom X (3AXX) dan sebuah sel telur tanpa kromosom X (3AO) (Suryo, 2008).
Adanya nondisjunction ini tentu saja mengakibatkan terjadinya berbagai macam kelainan dan keturunan yaitu (Suryo, 2008):
1.    Lalat betina super (AAXXX), yaitu apabila spermatozoa membawa kromosom Xmembuahi sel telur yang mempunyai dua kromosom X. Lalat ini tidak sempurna pertumbuhannya, steril, sangat lemah, dan hidup tidak lama.
2.    Lalat AAXXY, yaitu apabila spermatozoa pembawa kromosomY membuahi sel teluryang mempunyai 2 kromosom X. Lalat ini betina subur, tak ada bedanya  dengan lalat beyina biasa. Berarti  kromosom Y pada drosphila tidak memberipengaruh pada seks.
3.    Lalat AAXO, yaitu apabila spermatozoa pembawa kromosom X membuahi sel telurtanpa kromosom X. Lalat ini jantan dan steril
4.    Lalat ginandromorf, ialah lalat yang tubuhnya separuh bersifat betina dan separuhnya bersifat jantan. Untuklalat ini tidak dapat diberikan formulasi kromosomnya
5.    Lalat interseks AAAXX, yaitu lalat yang merupakan campurann antara lalat betina dan jantan, triploid (3n) untuk autosomnya dan memiliki 2 kromosom X, steril.
6.    Lalat jantan super AAAXY, yaitu lalat jantan triploid untuk autosomnya,  sperti halnya  dengan lalat betina super maka pertumbuhannya tidak sempurna, steril, sangat lemah, dan hidup tidaklama.
7.    Lalat dengan kromosom X melekat pada salah satu ujungnya (attached X cromosomes) AAXXY  .lalat ini memiliki fenotip seperti lalat betina normal,tetapi bila diperiksa menggunakan mikroskop maka inti selnya mengandung sepasang kromosom X yang saling melekat pada ujungnya ditambah dengan adanya kromosom Y.
Pada percobaan morgan mengenai drosphila melanogaster terdapat  seekor jantan dengan mata putih, dan tidak cemerlang yang menjadi ciri khas spesies itu. Ketika jantan bermata putih ini dikawinkan dengan betina bermata merah, semua keturunannya bermata merah. Ini suatu tanda bahwa  jika sifat mata putih itu ditentukan  oleh sutau gen khusus, maka gen itu bersiifat resesif.  Ketikamorgan melakukan persilangan morgan menemukan semua keturunan yang bermata putih itu jantan.  Tidak terdapat seekor betiina pun yang bermata putih. Morgan menyimpulkan bahwa jika diasumsikan bahwa alela yang bersangkutan terletakdikromosom X.  Lalat betina mempunyai 2kromosom X harus homozigot untuk mata putih agar sifat itu dapat  dilihat. Sebaliknya lalat jantan karena hanya memiliki satu kromosomX alela apapun yang terdapat pada kromosom tersebut  akan memperlihatkan sifat itu.  Morgan menamakan sifat menurun demikian itu terpaut X karena gen terletak  pada kromosom X (Kimball, 1990)



















BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1 Alat dan Bahan
III.1. 1 Alat
            Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah botol nescafe, panci kecil, baskom sedang, blender, pisau, pengaduk, sendok, timbangan terigu, kompor minyak tanah, korek api, spons.
III.1.2 Bahan
            Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu lalat buah Gula  merah 150gram, pisang ambon 300 gram, agar-agar powder putih 14 gram, ragi, aquades 30 ml dan tisu.
III. 2 Cara Kerja
A.    Morfologi Lalat buah Drosophila melanogaster
            Cara kerja dari morfologi lalat buah yaitu:
1.    Mikroskop disediakan beserta perlengkapannya, kemudian mikroskop tersebut diatur sampai menemukan titik fokus yang paling baik
2.    Lalat tersebut dibius dengan cara ditutupi dengan kapas yang telah diberi alkohol padapermukaan botol tempat sediaan lalat tersebut
3.    Kemudian lalat yangsudah dibius tersebut diambil dengan pingset,lalu lalattersebut diletakkan pada objek  gelas atau kaca preparat sebelum lalat tersebut bangun karena bius tersebut hanya bisa bertahan selama 2 menit.
4.    Amati lalat dengan mikroskop dengan melihat morfologi lalat buah.
B.     Pembuatan medium lalat buah Drosophila melanogaster
1.    Alat dan bahan disiapkan  sebelum dilakukan percobaan
2.    Pisang ambon di potong kecil-kecil  agar cepat dan mudah untuk dihaluskan
3.    Gula merah dihancurkan agar mudah tercampur saat di masak.
4.    Timbang bahan-bahan sesuai dengan takarannya pada timbangan yang disediakan
5.    Pisang ambon yang telah di potong kecil-kecil kemudian di haluskan menggunakan blender
6.    Air 30 ml dimasukkan dalam panci lalu di tambahkan agar-agar 14 gr kemudian dimasak sambil diaduk-aduk
7.    Setelah beberapa menit, kemudian masukkan gula merah yang telah di haluskan, aduk sampai merata.
8.    Kemudian Masukkan pisang ambon yang telah di haluskan, aduk hingga merata
9.    Setelah di masak, adonan tersebut di masukkan kedalam botol nescafe yang  telah di sterilkan menggunakan alkohol.
10.Diamkan beberapa saat, setelah sedikit dingin masukkan tisu ke dalam botol      tersebut  yang berfungsi untuk menyerap air dan ditaburi ragi secukupnya.
11.Amati pertumbuhan lalat buah drosophila melanogaster dalam botol tersebut.






BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. 1 Hasil
IV.1.1 Morfologi Lalat Buah Drosophila Melanogaster
                                                                                               
IV. 1. 2 Siklus Hidup Lalat Buah Drosophila melanogaster
Hari
Perubahan/ Pertumbuhan
hasil pengamatan
hari/tanggal
I
Telur (embrio)
berwarna putih dan terlihat seperti titik  (bercak putih) yang menempel pada dinding botol
Jumat/ 22 Maret 2014
II
telur berubah menjadi instar larva (instar 1)
Berwarna putih, memliki segmen seperti cacing namun belum lincah. gerakannya masih semu
Senin, 25 Maret 2014
III
Instar larva membesar
(instar 2)
Ukurannya lebih besar dibanding instar 1, terlihat warna kehitaman pada bagian anterior larva (mulut larva)
Selasa, 26 Maret 2014
IV
Instar larva lebih besar dari hari sebelumnya (larva instar 3
warna hitam yang muncul lebih jelas, gerakannya lebih aktif dan ukurannya relative lebih besar
Rabu, 27 Maret 2014
V
instar larva berubah menjadi prepupa
Tidak ada lagi pergerakan, pada tubuh larva muncul selaput dan tubuhnya memendek
Kamis, 28 Maret 2014
VI
prepupa menjadi pupa
kutikulanya menjadi keras seperti cangkang dan berpigmen (agak kecoklatan), tidak bergerak (diam
Jumat, 29 Maret 2014
VII-VIII
Pupa menjadi imago
ukuran relative kecil dan sayap belum terbentang sempurna (beberapa lalat sudah mulai untuk terbang)
Sabtu-Minggu,30-31 Maret 2014
IX-X
lalat dewasa
Sayap telah terbentang sempurna, bergerak aktif dalam medium (terbang), semua lalat dalam medium terbang aktif
Senin-Selasa, 1-2 April 2014


IV. 1. 3 Pautan Seks
            Pada percobaan ini, tidak terlihat adanya pautan seks, Dimana pada percobaan,  setelah diamati semua lalat memiliki mata berwarna merah dan tidak ada yang berwarna putih. Ini menandakan bahwa tidak  terjadi pautan seks pada mata Drosophila melanogaster yang terdapat di dalam medium.
IV. 2 Pembahasan
            Secara morfologi, lalat buah Drosophila melanogaster jantan dan betina dapat dibedakan dengan melihat beberapa bagian pada tubuh lalat buah, diantaranya yaitu pada lalat buah betina memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan lalat buah jantan, ujung abdomen pada lalat buah betina runcing dan terdapat garis-garis melintang berwarna hitam sedangkan pada jantan ujung abdomennya tumpul dan berwarna kehitam-hitaman dan memiliki sedikit garis hitam melintang. Extremitas (kaki) depan pada lalat buah jantan memiliki sisir kelamin (seks comb), tetapi pada lalat betina  tidak terdapat seks comb.
            Pada pembuatan medium percobaan lalat buah  yaitu pertama-tama semua bahan yang akan digunakan ditakar terlebih dahulu, dengan menggunakan formula yaitu gula merah sebanyak 150 gr, pisang ambon sebanyak 300 gr,  agar-agar 7 gr, air 1 liter dan ragi secukupnya.
            Manfaat dari bahan-bahan yang digunakan pada pembuatan lalat buah ini yaitu pertama gula merah berfungsi sebagai sumber glukosa, pisang ambon berfungsi  menghasilkan aroma yang khas sehingga lalat tertarik, air berfungsi untuk mencampurkan adonan, agar-agar berfungsi untuk penguat adonan, ragi berfungsi untuk memberikan bau etanol pada lalat buah.
            Dari hasil percobaan, terlihat adanya perbedaan antara botol medium yang kecil dengan yang ukuran yang besar, dimana pada botol medium yang kecil populasi lalat buah sangat banyak, dibandingkan dengan botol  besar. Hal ini dikarenakan adanya kontaminasi jamur pada botol medium ini, sehingga pertumbuhannya hanya sampai pada fase pupa saja (mati)
            Drosophila melanogaster memiliki siklus hidup yang pendek, yaitu dimulai dari telur - larva instar 1 – larva instar II – larva instar III – pupa – imago. Larva instar I umumnya  muncul pada hari kedua yang berupa ulat kecil yang mulai bergerak, umumnya ulat-ulat tersebut berada dipermukaan medium karena merupakan sumber makanan. Fase selanjutnya larva instar II, yaitu ukuran larva lebih besar dan terlihat warna kehitam-hitaman pada bagian anterior (mulut) larva.
            Pada larva instar III, ukuran larva relatif besar dan warna hitam yang muncul lebih jelas, pergerakan larva lebih aktif. Selanjutnya, pada fase prapupa yaitu sudah tidak ada lagi pergerakan dan pada tubuh larva  muncul selaput dan tubuhnya pendek. Dari prapupa selanjutnya menjadi pupa, kutikula menjadi keras seperti cangkang dan berpigmen (agak kecoklatan) dan tidak bergerak. Selanjutnya, pupa akan menetas setelah 8 hari tegantung dari suhu lingkungannya dan pada hari ke 10 terbentuklah lalat dewasa dengan sayap yang telah terbentang sempurna, sehingga lalat bergerak aktif (terbang) di dalam medium.
            Pada percobaan ini, tidak ditemukan adanya lalat buah yang bermata putih, semua lalat  yang berada didalam medium memiliki mata berwarna merah.
                                                                                   


















BAB V
PENUTUP
IV.1 Kesimpulan
            Berdasarkan percobaan diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa:
1.    Morfologi dari Drosophila melanogaster yaitu pada Drosophila jantan memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dari betina, ujung abdomen pada lalat jantan tumpul sedangkan pada lalat betina runcing, dan pada lalat jantan memiliki 3 ruas dibagian abdomennya dan  memiliki sisir kelamin (Seks Comb) sedangkan pada lalat betina memiliki 6 ruas dan tidak memiliki sisir kelamin.
2.    Siklus hidup Drosophila melanogaster yaitu mengalami metamorfosis sempurna yang diawali dengan telur-larva-larva instar 1- larva instar II- larva instar III-prapupa-pupa-imago. Dari lalat dewasa hingga menghasilkan imago membutuhkan waktu sekitar ±12  hari.
V.2 Saran
            Sebaiknya laboratorium genetika dapat menyediakan alat-alat laboratorium dengan lengkap sehingga praktikum dapat berjalan lancar.



DAFTAR PUSTAKA
Agus, Rosana dan Sjafaraenan. 2013. Penuntun Praktikum Genetika Dasar.           Universitas  Hasanuddin: Makassar.

Bohari, Mega. 2011. Laporan genetika pemeliharaan lalat buah.     http://megabohari.blogspot.com. diakses pada tanggal 30 maret 2013 Pukul 21: 10 WITA.

Campbell, N. A.,J. B. Reece, and L. A. Urry. 2008. BIOLOGI Edisi kedelapan      jilid 3. Erlangga: Jakarta.
Eltra, 2012. Laporan Praktikum Genetika Penggunaan Lalat Buah Sebagai            Organisme Percobaan Genetika. http://eltra.blogspot.com. diakses pada           tanggal 30 Pukul 20: 15 WITA.

Kimball,  J. W. 1990. Biologi Umum. Erlangga: Jakarta
Silvia, Triana. 2003. Pengaruh Pemberian Berbagai Konsenterasi Formaldehida Terhadap Perkembangan Larva Drosophila. Universitas Padjdjaran:   Bandung      
Stansfield, W. D dan S. L. Elrod. 2007. Genetika Edisi Keempat. Erlangga:            Jakarta.

Suryo. 1984. Genetika. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

Suryo. 2008. Genetika. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

Teti. 2011. Laporan Praktikum Drosophila. http://teti-sby.blogspot.com. diakses   pada tanggal 27 Maret 2013 Pukul 11: 30 WITA.

Yatim, Wildan. 1983. Genetika Edisi ketiga. Tarsito: Bandung



sumber
http://ikasartikabiologi.blogspot.com/2014/05/laporan-genetika.html

LAPORAN PRAKTIKUM BIOTEKNOLOGI PEMBUATAN TEMPE

LAPORAN PRAKTIKUM BIOTEKNOLOGI PEMBUATAN TEMPE


               Hai sobat biologi, kali ini saya kasi deh buat kalian laporan praktikum biotek dengan judul pembuatan tempe, semoga bermanfaat yah...
BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Secara umum, Negara yang beranda di benua Asia, terkenal sebagai Negara dengan keragaman kuliner. Seperti china, korea, dan lainnya tak terlepas pula di Indonesia. Di Indonesia sendri hampir disetiap daerah memiliki makanan dengan ciri khas tersendiri. Selain karena kekhasan dan keunikan makanan tiap daerah, harga makanan yang murah juga membut Indonesia sebagai Negara wisata kuliner yang tak jarang banyak sekali orang-orang yang melakukan wisata kuliner yang bahkan pengunjunganya sampai pada warga mancanegara.
Salah satu makanan khas dari Indonesia yang dapat dikatakan telah menjadi makanan pokok masyarakat adalah tempe. Tempe merupakan makanan tradisional yang sangat popular dan digemari di masyarakat. Tidak hanya di Indonesia tempe sudah terkenal bahkan ke Eropa. Hal ini tidak lain karena rasanya yang nikmat, harga yang murah dan tentunya mengandung gizi yang baik. Bahan pokok pembuatan tempe biasanya menggunakan kacang-kacangan, seperti kacang tanah kedelai dan dapat pula menggunakan biji lamtoro. Akan tetapi yang paling sering digunakan adalah kacang kedelai.
Jika ditinjau dari proses pembuatan, dapat diketahui bahwa tempe merupakan salah satu produk bioteknologi berbasis konvensional. Hal ini karena melibatkan mikrobia eukariotik yaitu kapang yang biasanya diperoleh dari ragi artinya di dalam ragi tersebut mengandung empat jenis kapang dari kelompok Rhizopus, yaitu Rhyzopus ologosporus, Rhyzopus stolonifer, Rhyzopus arrhizus, dan Rhizopus oryzae. Hifa dari kapang iniliha yang terlihat berwarna putih pada tempe.
Melihat dari segi ekonomi konsumsi masyarakt yang begitu tinggi terhadap tempe, maka penting diadakan praktikum ini,  Selain karena daya konsumsi yang tinggi, tentunya kemampuan dasar dalam wirausaha berbasis pengetahuan biologi salah satunya dalam membuat tempe sangat penting untuk diketahui.
B.  Tujuan
Mengatahui cara pembuatan tempe dengan baik dan benar dan karakteristik tempe kualitas yang baik.
C.  Manfaat
Praktikan mengetahui cara pembuatan tempe yang baik dan benar dan karakteristik tempe kualitas yang baik.
.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Fermentasi merupakan suatu cara yang telah dikenal dan digunakan sejak lama sejak jaman kuno. Fermentasi merupakan suatu cara untuk mengubah substrat menjadi produk tertentu yang dikehendaki dengan menggunakan bantuan mikroba.  Bioteknologi berbasis fermentasi sebagian besar merupakan proses produksi barang dan jasa dengan menerapkan teknologi fermentasi atau yang menggunakan mikroorganisme untuk memproduksi makanan dan minuman seperti: keju, yoghurt, minuman beralkohol, cuka, sirkol, acar, sosis, kecap, dll (Nurcahyo, 2011).
Menurut Suprapti (2003) dalam Sukardi (2008) Tempe merupakan salah satu hasil fermentasi kedelai yang sudah cukup dikenal sebagai makanan yang bermanfaat bagi kesehatan. Tempe mengandung vitamin B12 yang biasanya terdapat dalam daging dan juga merupakan sumber protein nabati selain sebagai sumber kalori, vitamin dan mineral (Suprapti, 2003 dalam Sukardi, 2008).
Kata “tempe” diduga berasal dari bahasa Jawa Kuno. Pada masyarakat Jawa Kuno terdapat makanan berwarna putih terbuat dari tepung sagu yang disebut tumpi . Makanan bernama tumpi tersebut terlihat memiliki kesamaan dengan tempe segar yang juga berwarna putih. Boleh jadi, ini menjadi asal muasal dari mana kata “tempe” berasal (PUSIDO Badan Standardisasi Nasional, 2012).
Tempe merupakan makanan yang terbuat biji kedelai atau beberapa bahan lain yang diproses melalui fermentasi dari apa yang secara umum dikenal sebagai “ragi tempe”. Lewat proses fermentasi ini, biji kedelai mengalami proses penguraian menjadi senyawa sederhana sehingga mudah dicerna (PUSIDO Badan Standardisasi Nasional, 2012).
Secara umum tahu dan tempe dibuat dari bahan baku kedelai. Sekitar 80% kedelai dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan industry tahu dan tempe sedangkan sisanya digunakan oleh berbagai macam industry seperti  kecap, susu kedelai, makanan ringan dan sebagainya. Dalam beberapa tahun terakhir produksi kedelai di Indonesia terus berkurang dan tidak mampu memenehui kebutuhan (Haliza, 2007).
Tempe merupakan olahan kedelai dengan fermentasi kapang Rhizopus. Kapang yang sering digunakan dalam pembuatan tempe, adalah Rhizopus microsporus dan R. oryzae. Kedua kapang tersebut mempunyai aktivitas enzim β-glukosidase berbeda. Aktivitas enzim β-glukosidase R. microsporus var. chinensis lebih kuat daripada R. oryzae (Purwoko et al., 2001 dalam Purwoko, 2004).
Proses pembuatan tempe dapat terbilang membutuhkan waktu yang cukup lama. Hingga diperoleh hasil jadi tempe, waktu yang dibutuhkan yaitu minimal 24 jam dan maksimal 72 jam. Lamanya proses pembuatan tempe karena proses fermentasi. Fermentasi akan berlangsung baik dan cepat bila dibantu dengan kondisi suhu yang optimal, jumlah ragi yang tepat dan pH yang asam (±4-5)  (Widayati, 2002 dalam Lumowa, 2014).
Waktu fermentasi memberikan pengaruh dalam kualitas produk suatu produk, produk fermentasi adalah produk yang dapat diterima baik secara kenampakan, aroma serta nutrisi yang dihasilkan. Fermentasi dibantu oleh mikroorganisme yang memiliki fase hidu logaritmik. Sehingga untuk mendapatkan produk fermentasi yang terbaik harus mengetahui fase pertumbuhan optimal dari mikroorganisme yang dimanfaatkan tersebut (Darajat. 2014).


BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.  Waktu dan Tempat
Hari/Tanggal           : Kamis, 1 Desember 2016
Waktu                     : Pukul 15.00-16.40 WITA
Tempat                   : Laboratorium Biologi Lantai 3 Barat FMIPA UNM
B.  Alat dan Bahan
1.    Alat
a.    Talang plastik
b.    Baskom
c.    Pengaduk kayu
d.   Dandang
e.    Kompor
f.     Jarum pentul
g.    Kardus
h.    Kipas angin
2.    Bahan
a.    Kedelai
b.    Kacang tanah
c.    Kacang merah
d.   Ragi tempe
e.    Air secukupnya
f.     Lilin
g.    Kemasan plastik/daun pisang
C.  Prosedur Kerja
1. Membersihkan kedelai, kacang tanah, dan kacang merah dari kotoran-kotoran kemudian direndam dengan air bersih selama 12-18 jam.
2.  Melepaskan kulit biji kedelai, kacang tanah, dan kacang merah yang telah lunak, kemudian mencucinya dengan menggunakan air bersih.
3.   Mengukus masing-masing kedelai, kacang tanah, dan kacang merah tersebut sampai empuk.
4.  Setelah biji kedelai, kacang tanah, dan kacang merah terasa empuk, menuangkan masing-masing biji tersebut pada talang yang telah dibersihkan, lalu diangin-anginkan dengan kipas sambil diaduk hingga biji tersebut menjadi hangat.
5.  Menaburkan ragi tempe pada masing-masing kedelai, kacang tanah, dan kacang merah sedikit demi sedikit sambil diaduk-aduk supaya merata.
6.   Menyiapkan kantong plastik kemudian memberi lubang dengan menggunakan jarum
7.   Memasukkan masing-masing kedelai, kacang tanah, dan kacang merah yang telah diberi ragi ke dalam pembungkus yang berbeda setiap jenis kacang. Mengatur ketebalannya sesuai dengan selera dan simpan ke dalam kardus untuk proses fermentasi.
8.  Proses fermentasi kedelai, kacang tanah, dan kacang merah ini pada suhu kamar selama satu atau dua hari hingga seluruh permukaan kacang kedelai tertutupi jamur.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.  Hasil Pengamatan

No
Bahan
ambar Hasil Pengamatan
1.
Kacang Tanah

2.
Kedelai


3.
Kacang Merah


B.  Pembahasan
Tempe merupakan makanan yang terbuat biji kedelai atau beberapa bahan lain yang diproses melalui fermentasi dari apa yang secara umum dikenal sebagai “ragi tempe”. Lewat proses fermentasi ini, biji kedelai mengalami proses penguraian menjadi senyawa sederhana sehingga mudah dicerna   (PUSIDO Badan Standardisasi Nasional, 2012).
Proses pembuatan tempe dapat terbilang membutuhkan waktu yang cukup lama. Hingga diperoleh hasil jadi tempe, waktu yang dibutuhkan yaitu minimal 24 jam dan maksimal 72 jam. Lamanya proses pembuatan tempe karena proses fermentasi. Fermentasi akan berlangsung baik dan cepat bila dibantu dengan kondisi suhu yang optimal, jumlah ragi yang tepat dan pH yang asam (±4-5) (Widayati, 2002 dalam Lumowa, 2014).
Berdasarkan hasil pengamatan setelah dilakukan proses fermentasi, maka diketahui bahwa secara umum dapat dikatakan tidak berhasil. Proses pembuatan tempe menggunakan bahan kacang kedelai tidak berjalan dengan baik dimana hampir seluruh tempe kedelai yang dibuat tidak berhasil dimana memiliki aroma berbau tidak sedap dan misellium yang tumbuh tidak merata. Sedang pada kacang merah dapat dikatakan gagal sepenuhnya, miselium tumbuh tidak merata dan memiliki bau tidak sedap. Sedang pada kacang tanah dapat dikatakan berhasil hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan miselium yang baik berwarna putih dan merata walaupun ada beberapa dari produk yang dibuat tidak berhasil.
Dari beberapa hipotesis tidak maksimalnya pembuatan tempe tersebut disebabkan karena kualitas kacang-kacangan yang kurang baik, terutama pada kacang kedelai dan kacang merah. Selain itu, karena pemberian ragi kurang merata sebab pada saat pemberian ragi kacang masih dalam keadaan agak basah serta tempat penyimpanan atau cara penyimpanan yang kurang baik dimana produk ditumpuk beberapa tingkat sehingga menghalangi udara masuk pada lubang-lubang yang dibuat.


BAB V
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan, maka diketahui bahwa proses pembuatan tempe yang dilakukan tidak berjalan dengan baik disebabkan proses pengolahan yang kurang baik.
B.  Saran
Sebaiknya menggunakan bahan-bahan yang jarang digunakan dalam proses pembuatan tempe pada umumnya semisal biji lamtoro.



DAFTAR PUSTAKA
Darajat, Duta Pakerti dkk. 2014. Jurnal Pangan dan Agroindustri. Influence of Fermentation Time and Proportion of Dextrin to the Quality of Milk Tempeh Powder.  Vol.2 No.1.

Haliza, Winda. 2007.  Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian. Pemanfaatan Kacang-Kacangan Lokal Sebagai Substitusi Bahan Baku Tempe dan Tahu. Vol. 3.

Lumowa, Sonja V. T. 2014. Jurnal EduBio Tropika. Pengaruh  Perendaman Biji Kedelai (Glycine Max, L. Merr)  Dalam Media Perasan Kulit Nanas (Ananas Comosus (Linn.) Merrill)  Terhadap Kadar Protein Pada Pembuatan Tempe. Vol. 2 No. 2.

Nurcahyo, Heru. 2011. Diktat Bioteknologi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta

PUSIDO Badan Standardisasi Nasional, 2012. Tempe Persembahan Indonesia Untuk Dunia. Jakarta: BSN

Purwoko, Tjahjadi. 2004. Kandungan Isoflavon Aglikon pada Tempe Hasil Fermentasi Rhizopus microsporus var. oligosporus: Pengaruh Perendaman. Vol. 6 No.2.

Sukardi, dkk. 2008. Jurnal Teknologi Pertanian. Tempeh Inoculum Application Test of Rhizopus oryzae with Rice and Cassava Flour as Substrate at Sanan Tempeh Industries eh - Kodya Malang Vol. 9 No. 3.

sumber
http://kotakmipa.blogspot.com/2017/01/laporan-praktikum-bioteknologi.html